Teduhnya Langkah yang Tidak Terucap
Layaknya pendar lilin di sudut sepi, saya tidak berambisi menerangi seluruh kota untuk bermakna. Cukup dengan tetap menyala, memberi hangat bagi siapa pun yang singgah di dekatnya. Momen tilik sedulur (menjenguk saudara) ini adalah saat di mana kekuatan Tuhan bertemu dengan kesetiaan waktu. Di hadapan para sesepuh yang telah kenyang...
Membesarkan Hati
Dalam perjalanan tilik sedulur, saya menyaksikan pemandangan yang menggetarkan: para suami senja yang setia membesarkan hati istri mereka di tengah kepungan sakit. Saat diabetes dan gangguan saraf menggerus raga serta memori, para suami ini hadir sebagai ‘penyambung napas’ harapan. Mereka tidak sekadar merawat fisik, tapi menghidupkan kembali nyala jiwa...
Welas Asih
“Seni mencintai hidup dengan cara yang paling tenang” (aspire to live quietly – Yes 30: 15). Ketenangan itu adalah sebuah penerimaan diri yang utuh. Rasa tenang itu hadir saat kita berhenti untul membandingkan langkah kaki kita dengan lari orang lain, lalu mulai mendengarkan detak jantung sendiri dengan penuh kasih....
Ziarah Hati
Dua hari di Lampung itu bukan sekadar perjalanan melintasi ruang, melainkan sebuah ziarah hati yang kami sebut ‘tilik sedulur’. Layaknya api di tungku yang harus terus dijaga agar tetap hangat, hubungan persaudaraan itu juga menuntut perhatian yang konsisten. Kami melangkah dari pintu ke pintu, melakukan sebuah ‘road show’ kasih...
Bahasa Ketulusan
‘Tilik sedulur’ adalah bahasa ketulusan yang paling jujur. Tanpa perlu banyak kata, paseduluran hadir untuk mendekap jiwa; memberi ruang bagi setiap hati untuk menyadari, bahwa dalam diam pun, hangatnya persaudaraan selalu ada dan dirindukan. Dalam Budaya Jawa, ‘sedulur’ itu bermakna jauh lebih dalam dari sekadar teman; ia adalah ikatan...
Iman sebagai Penyangga Hidup
Sebagai manusia, tubuh kami mudah lelah didera cedera oleh fisik yang melemah. Tapi dalam ketidakberdayaan ini, Yesus, Maria, dan Yosef jadi sosok penyangga daya langkah kami. Mantra penyangga kami itu adalah ‘iman’, bahwa: di titik paling rapuh sekalipun, penyertaan-Nya tetap utuh. Pagi ini, ketika kami menapakkan kaki di Lampung,...
Di Titik Paling Rapuh
Mendengar cerita teman yangkehilangan jam mengajar dan kekhawatiran tentang masa pensiun, ada nada yang sama: getir dan gelisah. Namun ingatlah: “Di titik paling rapuh sekalipun, penyertaan-Nya tetap utuh.” Inilah iman kita. Jangan biarkan kekhawatiran itu mencuri damai sejahtera kita. Percayakan hidup ini sepenuhnya pada-Nya. “Serahkanlah kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia...
Alam adalah Cermin, Agato itu Kebaikan
Semesta adalah pantulan dari apa yang kita berikan. Saat kita merawatnya dengan tulus, ia membalasnya dengan keberlimpahan. Begitu pula hidup. “Jika kita ingin memanen kebahagiaan, kita harus telaten menanam kebaikan. Jika ingin menuai kedamaian, kita perlu sabar merawat ketulusan.” Karena hidup tidak pernah memberi yang kita inginkan, tapi memberi...
Menjaga Langkah, Menatap Arah
Dahulu, kita hanya butuh waktu sejenak untuk belajar berdiri. Dengan jemari kecil yang menggenggam erat tangan Ibu, kita belajar melangkah satu demi satu hingga akhirnya mampu. Seiring waktu kita sadari, bahwa sekadar kaki yang kuat itu tidaklah cukup. Jika belajar berjalan hanya membutuh hitungan tahun, maka belajar menjaga hati...
Bahu yang Memar
Iman itu bukanlah garis lurus yang terus menanjak, melainkan sebuah perjalanan ‘jatuh bangun’. Ada saat di mana langkah kita begitu ringan, karena berkat yang melimpah. Tapi ada kalanya bahu kita kembali memar, karena tersungkur oleh beban hidup. Iman adalah tentang menerima pasang dan surutnya hidup ini. Kadang kita berdiri...
Gong Utama dan Semangat Tut Wuri
Gereja ‘bernapas’ saat iman jadi nadi dalam hidup sehari-hari. Inilah ‘Sensus Fidei’: tanda Roh Kudus bekerja dalam diri kita. Di tengah hiruk-pikuk dunia, Yesus adalah Gong Utama yang menjaga harmoni nada kehidupan kita. Agar napas Gereja tetap segar, kita butuh kearifan untuk menepi. Seperti Bunda Maria, umat sepuh diundang...
Memukuli Bayangan
Sering kali, masalah terbesar kita bukanlah apa yang orang lain lakukan, melainkan apa yang otak kita ‘tambahkan’ terhadap tindakan mereka. Contoh ilmu ‘Cocoklogi’ : Kita melihat seseorang merokok, lalu asumsi kita melompat terlalu jauh (overthinking). Kita melabelinya sebagai ‘penghancur kesehatan bumi’ atau pribadi yang egois. Dalam sekejap, di kepala...
Beciké Ati-ati
Sesungguhnya, istilah “Esok dele sore tempe,” adalah satu pengingat (Jawa) untuk ‘èling’ pada diri sendiri saat berurusan dengan orang lain agar janji kita bisa dipegang dan dipercaya. Secara harfiah, “Esok dele, sore tempe” berarti “pagi masih kedelai, sore sudah jadi tempe.” Karena kedelai itu membutuhkan waktu fermentasi jadi tempe,...
Pemimpin Yes:Satunya Kata dan Perbuatan
“Mengapa Integritas itu Menenangkan?“ Sederhananya, integritas adalah tentang keselarasan: “Katakan yang dilakukan, dan lakukan yang dikatakan.” Saat kata dan perbuatan berjalan seiring, batin kita jadi tenang. Kita tidak lagi butuh energi ekstra untuk merangkai skenario palsu atau menutupi kenyataan. Integritas itu bukan tentang mengejar kesempurnaan, melainkan tentang keberanian untuk...
Seni Memimpin: Ngemong di Balik Instruksi
Ngomong (bicara): Banyak orang yang keliru menganggap, bahwa memimpin itu hanyalah soal kepiawaian ‘ngomong’ memberi perintah, membagi tugas, dan memastikan roda kerja berputar. Tapi instruksi yang hampa empati itu hanya akan menghasilkan kepatuhan sesaat. Tim kerja itu akan bergerak, karena takut, dan bukan karena hormat. Ngemong (ngayomi): Sebaliknya, pemimpin...