‘Tilik sedulur’ adalah bahasa ketulusan yang paling jujur. Tanpa perlu banyak kata, paseduluran hadir untuk mendekap jiwa; memberi ruang bagi setiap hati untuk menyadari, bahwa dalam diam pun, hangatnya persaudaraan selalu ada dan dirindukan. Dalam Budaya Jawa, ‘sedulur’ itu bermakna jauh lebih dalam dari sekadar teman; ia adalah ikatan batin yang tak terputus. Bagi saya,…
Kategori: JLITHENG
Iman sebagai Penyangga Hidup
Sebagai manusia, tubuh kami mudah lelah didera cedera oleh fisik yang melemah. Tapi dalam ketidakberdayaan ini, Yesus, Maria, dan Yosef jadi sosok penyangga daya langkah kami. Mantra penyangga kami itu adalah ‘iman’, bahwa: di titik paling rapuh sekalipun, penyertaan-Nya tetap utuh. Pagi ini, ketika kami menapakkan kaki di Lampung, rasa syukur itu kian nyata. Di…
Di Titik Paling Rapuh
Mendengar cerita teman yangkehilangan jam mengajar dan kekhawatiran tentang masa pensiun, ada nada yang sama: getir dan gelisah. Namun ingatlah: “Di titik paling rapuh sekalipun, penyertaan-Nya tetap utuh.” Inilah iman kita. Jangan biarkan kekhawatiran itu mencuri damai sejahtera kita. Percayakan hidup ini sepenuhnya pada-Nya. “Serahkanlah kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Ptr 5:…
Alam adalah Cermin, Agato itu Kebaikan
Semesta adalah pantulan dari apa yang kita berikan. Saat kita merawatnya dengan tulus, ia membalasnya dengan keberlimpahan. Begitu pula hidup. “Jika kita ingin memanen kebahagiaan, kita harus telaten menanam kebaikan. Jika ingin menuai kedamaian, kita perlu sabar merawat ketulusan.” Karena hidup tidak pernah memberi yang kita inginkan, tapi memberi yang kita ‘rawat’. Sudahkah kita menyiram…
Menjaga Langkah, Menatap Arah
Dahulu, kita hanya butuh waktu sejenak untuk belajar berdiri. Dengan jemari kecil yang menggenggam erat tangan Ibu, kita belajar melangkah satu demi satu hingga akhirnya mampu. Seiring waktu kita sadari, bahwa sekadar kaki yang kuat itu tidaklah cukup. Jika belajar berjalan hanya membutuh hitungan tahun, maka belajar menjaga hati agar tidak tersesat itu adalah perjalanan…
Bahu yang Memar
Iman itu bukanlah garis lurus yang terus menanjak, melainkan sebuah perjalanan ‘jatuh bangun’. Ada saat di mana langkah kita begitu ringan, karena berkat yang melimpah. Tapi ada kalanya bahu kita kembali memar, karena tersungkur oleh beban hidup. Iman adalah tentang menerima pasang dan surutnya hidup ini. Kadang kita berdiri tegak di puncak berkat, tapi sering…
Gong Utama dan Semangat Tut Wuri
Gereja ‘bernapas’ saat iman jadi nadi dalam hidup sehari-hari. Inilah ‘Sensus Fidei’: tanda Roh Kudus bekerja dalam diri kita. Di tengah hiruk-pikuk dunia, Yesus adalah Gong Utama yang menjaga harmoni nada kehidupan kita. Agar napas Gereja tetap segar, kita butuh kearifan untuk menepi. Seperti Bunda Maria, umat sepuh diundang jadi pilar doa di latar belakang…







