Kiasan “Kunang-kunang di Waktu Malam” mengingatkan kita, bahwa meski cahaya iman kita terlihat kecil, ia memiliki keindahan luar biasa, justru karena menyala di tengah kegelapan.
Sahabat…, kisah murid-murid menuju Emaus adalah kisah tentang kita yang sedang lelah, sakit, atau kehilangan arah di hari yang mulai senja. Saat itu, hati mereka gelap oleh duka, persis seperti keheningan malam yang pekat.
Di tengah keputusasaan itu, Tuhan hadir sebagai cahaya meneduhkan, dan sebagai kawan perjalanan yang lembut. Ia tidak menuntut langkah yang kuat, Ia hanya menyertai hati yang tetap berpaling kepada-Nya.
Tetaplah seperti Emaus bak kunang-kunang, karena Sang Sumber Cahaya berjalan di samping kita.
Berkah Dalem.
Jlitheng

