Ngomong (bicara): Banyak orang yang keliru menganggap, bahwa memimpin itu hanyalah soal kepiawaian ‘ngomong’ memberi perintah, membagi tugas, dan memastikan roda kerja berputar. Tapi instruksi yang hampa empati itu hanya akan menghasilkan kepatuhan sesaat. Tim kerja itu akan bergerak, karena takut, dan bukan karena hormat.
Ngemong (ngayomi): Sebaliknya, pemimpin yang ‘ngemong’ itu hadir seperti oase. Ia tidak hanya berdiri di depan untuk memberi instruksi, tapi juga bersedia berjalan di samping untuk mengasuh potensi. Ia tahu kapan harus bersikap tegas demi standar mutu, dan kapan harus memberikan pundak saat anggotanya sedang goyah (psychological safety).
Semoga Tuhan memberi kita kebijaksanaan untuk menyeimbangkan antara ‘ketegasan kata’ dan ‘kelembutan hati’.
Berkah Dalem.
Jlitheng

