Sesungguhnya, istilah “Esok dele sore tempe,” adalah satu pengingat (Jawa) untuk ‘èling’ pada diri sendiri saat berurusan dengan orang lain agar janji kita bisa dipegang dan dipercaya.
Secara harfiah, “Esok dele, sore tempe” berarti “pagi masih kedelai, sore sudah jadi tempe.” Karena kedelai itu membutuhkan waktu fermentasi jadi tempe, perubahan yang dadakan ini ‘ngelingake’ (mengingatkan) diri sendiri agar: tidak ‘mblénjani’ janji; mengingikarinya.
Jika kita, misalnya sebagai Ketua RT, sering ‘mblénjani’ rakyat, akan kehilangan kepercayaan rakyat, sehingga tidak dianggap.
Kepercayaan itu ibarat kristal; sekali retak karena janji yang meleset, ia takkan pernah utuh kembali. “Esok dele sore tempe” mungkin enak di meja makan, tapi pahit dalam kehidupan sosial. ‘Beciké ati-ati’, jagalah janji seerat nadi.
Berkah Dalem.
Jlitheng

