Halaman 16 Buku Putih: “Madah Fajar Syukurku.” “Tuhan yang Maha Pengasih, di ambang pagi yang bening ini, aku bersimpuh mengucap syukur. Terima kasih atas nafas yang masih berhembus, serta raga dan jiwa yang Engkau jaga dalam kesehatan yang utuh. Di hari yang baru ini, tuntunlah langkahku agar setiap inci diriku jadi saluran berkat-Mu. Bagi pikiranku:…
Kategori: JLITHENG
Halaman 16 Buku Putih:
Halaman 15 Buku Putih:
Senandung Hidup Tenteram
Halaman 15 Buku Putih: “Senandung Hidup Tenteram” Disenandungkan seperti lagu kepala, pundak, lutut, kaki, daun telinga, sambil olahraga atau meditasi. “Lidah, tangan, pundak, hati, pundak, hati, jadilah tenteram”. Lidah tak berdusta,Tangan tak serakah,Pundak siap memikul,Hati jadi tenteram. Lidah Tak Berdusta (Kejujuran): Mengacu pada pilar mengatakan yang benar. Lidah yang terjaga dari dusta menjauhkan kita dari…
Halaman 13 Buku Putih:
Bertukar Berkabar dan Saling Mendoakan
Halaman 13 Buku Putih tentang ‘ngaruhke’, sarana perekat yang memastikan, bahwa api persaudaraan tetap bernyala. Istilah ‘ngaruhke‘ (Jawa) secara harfiah berarti perhatian pada orang lain. Khabar- Kinabharan (saling berkabar), sebagai wujud paling sederhana, tapi kuat dampaknya, karena alasan berikut: Dengan menyapa atau sekadar tanya kabar, seseorang mengakui adanya orang lain, wujud penghormatan paling dasar persaudaraan…
Halaman 12 Buku Putih:
Liturgi Kasih di Tengah Badai
Halaman 12 Buku Putih ini saya persembahkan untuk mereka yang telah menunjukkan kisah-kisah luar biasa, sebagai istri untuk suaminya atau suami untuk istrinya yang selama hidupnya membutuhkan dia sebagai tempat bersandar Setiap kata yang saya tulis ini lahir dari kedalaman makna kasih, pengabdian, dan ketangguhan manusiawi yang saya rekam dari kisah-kisah luar biasa mereka sebagai…
Halaman 11 Buku Putih:
Istri yang Berjuang untuk Tidak Lelah Merawat Suami
Halaman 11 Buku PutihKepada seorang istri yang lelah merawat suami, Tuhan bersabda : “Inilah anak-Ku terkasih, kepadanya Aku berkenan.” Bak akar, meski mendekap gelap & tidak terlihat, istri itu tak mengeluh. Sebab tahu tugasnya menopang hidup suaminya, dan bukan pajangan. Sebagai seorang istri, ia memilih jalan sunyi melayani suami yang tidak berdaya lagi. Berikut dialog…
Mata Hati
Buku halaman ke 6: Memiliki penglihatan tajam (mata) memang hebat, tetapi memiliki penglihatan batin adalah karunia. Seperti 3 orang Majus, penglihatan batin itu mengajarkan, bahwa tidak semua jendela terbuka layak dimasuki. Kedamaian jiwa sering ditemukan dalam keputusan kita mengatakan ‘tidak pada hal-hal yang tak selaras (walau indah) dengan tujuan luhur hidup kita. Karunia ini kita…
Epifani Tulus Hati
Halaman 5: Epifani hanya ilusi tanpa Empati. Dalam konteks spiritual dan kemanusiaan di awal 2026 ini, Epifani (penemuan diri) memang tidak boleh berhenti pada kepuasan pribadi. Tanpa empati, Epifani hanya seperti “gong yang nyaring bunyinya.” Indah didengar, tapi tidak mempunyai jiwa dan akan cepat berlalu. Empati memberi ‘bobot’, sehingga bisa menyentuh dan mengubah orang lain….







