Standar kualitas untuk ‘mendaki’ itu dilalui dengan ketekunan lahir batin. Untuk menapaki standar hidup itu dibutuhkan langkah nyata yang sering melelahkan. Jiwa transfiguratif dengan 3 karakter murid, yakni ‘rendah hati, tulus dan tekun’ layak kita jalani di masa puasa ini. Berkah Dalem.Jlitheng
Kategori: JLITHENG
Transfigurasi Ketekunan:
Transfigurasi Ketulusan:
Jujur, Fokus, dan Taat
Ketulusan (purity of heart) adalah syarat untuk melihat Allah. Seperti di Gunung Tabor, ketulusan mereka terlihat dari 3 hal : Setelah kerendahan hati, ketulusan kita teruji lewat “jujur, fokus, dan taat” untuk melihat inti iman kita. Berkah Dalem.Jlitheng
Transfigurasi Rendah Hati:
Kesadaran akan Ketidaklayakan
Di atas gunung, wajah Tuhan berubah bercahaya dan Ia berbicara dengan Musa dan Elia. Respon ketiga murid ini menunjukkan kerendahhatian yang mendalam. Inti sari rendah hati spiritual adalah: tidak jadi sombong, karena merasa dipilih, tunduk pada kuasa Allah, dan siap dididik sesuai keinginan Allah. Berkah Dalem.Jlitheng
Kekudusan Murid
Jadi ‘kudus’ berarti kita adalah produk original dari Kerajaan Surga. Dunia mungkin menawarkan banyak ‘barang tiruan’ (kesuksesan instan, kebahagiaan semu), tapi murid berkualitas akan tetap memegang standar moral dan kasih yang diajarkan oleh Sang Guru. Membayangkan kekudusan bukan sebagai jubah putih yang takut kotor, melainksn sebagai standar kualitas murid Tuhan, seperti pengalam 3 murid di…
Trifecta: Rendah Hati, Tulus, dan Tekun
Refleksi ini adalah intisari dari ‘Lima Jari’ itu jadi: gabungan tiga jati diri, yakni rendah hati, tulus dan tekun, yang menciptakan sosok yang tidak hanya kuat secara spiritual, tapi juga teduh secara sosial. Rendah Hati (Humility):Ini adalah titik awal. Rendah hati memungkinkan kita untuk mengakui kekurangan dan merasa butuh akan bimbingan Tuhan atau bantuan sesama. Tanpa…
APP dan Lima Jari:
Hidup makin Bermakna
‘Lima Jari’ adalah simbol kerja nyata. Di hadapan Tuhan, bukan seberapa besar tangan kita, melainkan seberapa banyak kasih yang disalurkan melalui jemari tersebut untuk merangkul yang lemah dan melayani sesama. Ibu Jari (Jempol):Mengajarkan kita untuk selalu melihat kebaikan. Seperti jempol yang memberikan pujian, hidup kita pun dipanggil untuk mengangkat martabat sesama dan memuliakan nama Tuhan…
Migunani tidak harus Utuh
Layaknya sebuah bejana tua yang retak, kami tidak lagi utuh kendati ingin migunani Migunani itu tidak berarti harus utuh. Artinya, dalam kondisi retak adalah bentuk keberanian tertinggi. Kami tidak lagi memberi dari ‘kelebihan’, tapi memberi dari ‘kedalaman’. Saat kami berhenti berusaha untuk jadi sempurna, di situlah kami jadi sangat nyata bagi orang lain, bahwa ‘hidup…







