“Siapakah aku ini, hingga merasa berhak menakar benar atau salahnya orang lain?” Kita semua adalah karya Allah, masing-masing dari kita dengan waktu mekar yang berbeda. Ketika kita berhenti menunjuk jari dan mulai membuka hati kepada orang lain, perasaan teduh di hati ini muncul, karena kita memilih melepaskan beban menghakimi orang lain. Dalam ketenangan ini, kita…
Kategori: JLITHENG
Menata Batin
Sesaat lagi Ramadhan usai dan Prapaskah akan berakhir. Apa yang dicari dengan puasa dan derma, jika hati kita kemrungsung? Tanpa penataan niat dan kejujuran batin, puasa itu hanya dapat lapar, dan derma itu hanya mengurangi saldo. Ketenangan itu justru lahir saat kita berhenti ‘mencari sesuatu’ (menep) dari ibadah tersebut dan mulai merasakan prosesnya. Terkadang kita…
Mencari Air Sejati
Dalam ajaran Guru Sejati, hati ini adalah mata air. Jika sumbernya keruh atau bocor, karena luka, dendam, atau kepahitan yang belum selesai, maka perbuatan baik di luar (puasa dan derma) kehilangan kuasanya untuk memberi ketenangan sejati. Itu terjadi kebocoran spiritual dalam berpuasa: istilahnya merembes ke luar sangat terang untuk menggambarkan, bagaimana seseorang bisa sangat religius,…
Dari Kenosis yang Riuh Gelar menuju Keheningan yang Mencerahkan
Dahulu, bejana hidup kita penuh sesak dengan peran dan pengakuan. Sebagai apa pun perannya, hari-hari kita riuh dengan kata-kata, jadwal, dan pandangan mata yang menatap penuh rindu. Ibarat bejana merasa ‘penuh’, karena kesibukan. Dengan menyusut, Tuhan seolah-olah mengetuk bejana itu dan meminta kita menumpahkan isinya. Kita harus mengosongkan diri dari identitas yang selama ini dibangun…
Karena Allah Menopangku, Aku pun Sembuh
“Ke dalam tangan-Mu, aku serahkan hari-hariku.” Tuhan, terima kasih telah menjaga harapanku agar tetap menyala hanya pada-Mu. Di atas tumpuan kasih-Mu, aku berjanji untuk tetap berjuang menjalani hidup dengan lebih baik, lebih sehat, dan lebih bertanggung jawab. Aku bersyukur atas kehadiran istri, anak-anak, cucu, saudara, dan teman lingkungan juga kampus yang jadi saluran kekuatan bagiku….
Jiwa-jiwa yang Berserah Pasrah
“Di tengah ketidaklayakan, kami bersandar pada kuasa-Mu.” Kami sadar, bahwa tidak pantas di hadapan-Mu. Cukuplah kami datang apa adanya, dengan segala retak dan lelah. Satu kata dari sabda Allah adalah penawar yang lebih ampuh dari obat manapun bagi jiwa yang dahaga. Saat ini, ketika kita menjalani puasa berdampingan, ada harmoni suci yang tercipta; simfoni doa…
Waktu adalah Guru Kesabaran Hidup Kita
Guru Kesabaran: Dalam hidup ini kita sering tidak sabar menunggu hasil. Padahal Tuhan mempunyai waktu-Nya sendiri. Seperti petani yang menanam padi, ia tidak bisa memaksa padi tumbuh besok. Kita harus belajar, bahwa waktu adalah guru kesabaran yang paling utama dalam iman. Guru Kehidupan: Padi tidak tumbuh lebih cepat hanya karena diteriaki. Umat tidak dewasa hanya…







