Tuntasnya Tugas Cinta ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah pilihan penghormatan yang mendalam bagi mereka (kakak, adik, saudara, teman) yang sedang atau telah menjalani fase cinta yang matang.
Di usia senja, ‘ngopeni’ (merawat dengan telaten) pasangan itu bukan lagi soal kewajiban hukum atau sosial, melainkan bentuk doa dan pembuktian janji setia yang paling murni.
Saat raga tidak lagi bugar, kesetiaan beralih bentuk jadi kesabaran saat menyuapi, ketelitian menyiapkan obat, dan kelembutan saat memapah.
Menghadapi pasangan lansia yang mungkin mulai pikun atau sakit-sakitan itu membutuhkan keikhlasan yang luar biasa. Di sinilah ego perlahan luruh, berganti jadi kasih sayang yang tuntas.
Sering kali, genggaman tangan di sore hari atau sekadar memastikan selimut terpasang rapi adalah percakapan cinta yang lebih nyaring daripada puisi manapun.
Dunia mungkin tidak melihat pengabdian ini, namun bagi pasangannya, mereka adalah seluruh dunia yang tersisa.
Oase tentang tuntasnya tugas cinta itu akan jadi pelipur lara dan penyemangat bagi teman-teman sesama lansia dan akan jadi pengingat bagi anak cucu kita, bahwa puncak tertinggi dari cinta bukanlah gairah masa muda, melainkan ketulusan untuk tetap ada saat senja mulai temaram.
“Tidak perlu dibalas, cukup nikmati saya.”
Berkah Dalem.
Jlitheng

