Pengalaman dan hidup beriman dalam semangat Paskah itu tidak hanya dalam masa Paskah, tapi selama hidup di dunia. Kebangkitan Yesus Kristus menjiwai seluruh hidup kita.
Dalam periode ini Yesus tidak hadir secara fisik di tengah kita, tidak seperti bersama dengan orang-orang sezaman-Nya. Ia berada di sisi kanan Bapa di Surga, dan menyertai kita setiap saat, Roh-Nya yang hidup bersama kita di dalam Gereja dan masyarakat.
Apakah yang mesti kita perbuat untuk membuat iman kita jadi mantap dan bertahan dalam semangat Paskah ini?
Kita diajak untuk jadi alat-alat Tuhan. Pelayanan Yesus Kristus melalui Gereja sebagai institusi tetap berlangsung hingga saat ini, yang sasaran utamanya ialah kawanan umat manusia di sekeliling kita. Boleh jadi mereka itu adalah saudara dan teman sendiri. Mereka adalah banyak orang yang kurang kita kenal. Boleh jadi mereka ialah orang-orang yang dipercayakan Tuhan kepada kita untuk dididik dan dibina.
Jadi alat-alat Tuhan merupakan suatu panggilan Kristiani yang mendasar, seperti kata Pemazmur: “Inilah aku Tuhan, untuk melakukan kehendak-Mu” (Mazm. 40). Hidup dengan menghayati panggilan untuk jadi alat Tuhan, ialah membuat Tuhan sungguh hadir secara nyata dan pribadi dengan tugas-tugas pelayanan Yesus Kristus yang adalah penyelamat, penyembuh, pengajar, pembawa kebenaran, penghibur, dan pengampun. Panggilan ini tertuju kepada setiap dari kita sebagai Imam, Biarawan, dan awam. Menjalankan panggilan ini berarti kita berbuat atas nama Tuhan Yesus Kristus dan membuat Dia bekerja secara nyata.
Contoh nyatanya ialah seperti para Rasul yang bertahan dalam kebenaran Injil yang diwartakannya, meski mereka di penjara dan diadili Mahkamah Agama Yahudi. Seorang Imam Yahudi terkenal, Gamaliel, juga berbicara atas nama kebenaran dan sekaligus membela perbuatan-perbuatan para Rasul. Mereka adalah instrumen-instrumen ajaran dan pengetahuan iman yang benar. Pada suatu kesempatan yang lain, para Rasul yang jadi jembatan bagi pemberian makanan kepada ribuan orang yang kelaparan setelah lelah mendengarkan pengajaran Yesus Kristus. Seorang anak yang menyediakan seporsi kecil roti dan ikan juga tampil sebagai alat Tuhan bagi terciptanya mukjizat perbanyakan roti dan ikan. Mereka adalah instrumen-instrumen kemurahan Tuhan bagi kebutuhan ragawi manusia.
Kita dapat jadi alat-alat Tuhan dalam kondisi dan kemampuan setiap pribadi atau kelompok masing-masing. Semua itu bergantung pada kesediaan kita.
“Ya, Allah yang Mahamurah, perkuatkan kami supaya kami dapat menjadi alat-alat-Mu yang benar dan berguna, terutama bagi sesama kami yang membutuhkan. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

