“Ketika harapan itu memudar, Yesus mendekat. Hati mendingin, Sabda-Nya menyalakan kembali. Dalam kebimbangan, Ia menyatakan diri-Nya dengan pemecahan Roti.”
Allah yang Maharahim, kami berjalan di jalan menuju Emaus: jalan kekecewaan, kebingungan, dan harapan yang pudar.
Seperti kedua murid itu, kami pernah percaya, berharap, dan mengikuti Engkau dengan penuh semangat. Ketika kenyataan itu tidak sesuai harapan, perlahan hati kami jadi lemah.
Ada doa yang terasa tidak dijawab, harapan yang seakan hancur, dan salib yang tidak kami mengerti.
Tanpa disadari, kami mulai menjauh: dari pengharapan, sukacita, dan bahkan meragukan Engkau.
Di tengah perjalanan ke Emaus itu, Engkau datang mendekat.
Yesus, Engkau berjalan bersama kami dalam kebingungan, mendengarkan keluh kesah kami, dan Engkau menerima hati kami apa adanya.
Saat mata kami tertutup dan tidak mampu mengenali-Mu, Engkau tidak meninggalkan kami. Engkau justru menuntun kami kembali melalui Sabda-Mu.
Engkau membuka Kitab Suci, menyingkapkan rencana kasih Allah, memurnikan cara kami melihat, hingga hati kami kembali berkobar. “Bukankah hati kita berkobar-kobar?”
Tuhan, nyalakan kembali hati kami. Bakar keraguan kami, harapan yang keliru, dan ketidakpercayaan kami.
Berilah kami kerinduan yang mendalam akan Sabda-Mu untuk makin mengenal Engkau, dan hati kami yang diubah.
Dalam pemecahan roti, Engkau menyatakan diri-Mu sepenuhnya.
Dalam Ekaristi Kudus, Engkau sungguh hadir. Bukan jauh, melainkan dekat.
Bukalah mata kami, ya Tuhan, agar kami mengenali-Mu dalam misteri ini. Ajarlah kami untuk rindu akan kehadiran-Mu, untuk tinggal bersama-Mu, dan berseru dari hati kami:
“Tinggallah bersama kami, Tuhan.”
Ketika kami sungguh berjumpa dengan-Mu, jangan biarkan hati kami tetap sama, tapi diperbarui.
Ubah kekecewaan kami jadi api, kebingungan itu jadi terang, dan langkah mundur kami jadi perutusan.
Seperti kedua murid itu, utuslah kami kembali. Dengan iman yang teguh dan hati yang berkobar untuk mewartakan, bahwa Engkau hidup.
Engkau bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan Tuhan yang hidup, berjalan bersama, berbicara, dan memberikan diri-Mu bagi kami.
Yesus, dalam setiap perjalanan hidup kami dan setiap Ekaristi, biarlah kami selalu mengenali-Mu serta tidak pernah menjauh lagi.
“Yesus, Engkaulah Andalanku. Amin.”
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

