Kalimat ini bukan sebuah pertanyaan untuk dijawab, melainkan pernyataan yang berisi identitas kita sebagai pengikut Kristus dan umat Tuhan. Hal ini berkaitan dengan pekerjaan kita dari Tuhan Allah, yaitu beriman kepada-Nya.
Ketika kita melakukan pekerjaan rohani di hadirat dan dalam Tuhan, di sana kita tidak menemukan pertama-pertama Tuhan yang bekerja. Kita temukan pertama-tama siapa Dia Tuhan itu. Identitasnya, Tuhan seperti apa dan keberadaan-Nya itu menjelaskan Dia terhadap kita dan kita terhadap Dia. Bukan pekerjaan atau tugas yang jadi kesibukan kita pertama-tama di antara kita, tapi kehadiran, keberadaan, dan pengetahuan yang menandakan hubungan kita.
Oleh karena itu pertanyaan kerumunan orang Yahudi kepada Yesus, “Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan kepada kami, supaya kami dapat melihat dan percaya kepada-Mu?” Merupakan suatu salah paham dan ambisi untuk mendapat keuntungan sendiri. Mereka langsung loncat ke pekerjaan dan urusan perut, yang kalau bisa diperoleh, tujuan mereka tercapai. Sementara itu pengetahuan, isi pikiran, hati, dan hubungan dekat serta saling percaya itu belum terjalin. Padahal itu yang sangat dikehendaki Tuhan.
Yesus menjawab ketidaktahuan atau mungkin ambisi mereka dengan menunjukkan identitasnya, “Aku adalah Roti” yang sesungguhnya mereka cari. Tidak usah repot-repot dengan yang lain-lain, tapi cukup mengenali Dia, percaya kepada-Nya dan tinggal bersama Dia. Contoh paling menarik ialah Stefanus yang jadi martir pertama di dalam Gereja kita, setelah kebangkitan Kristus. Ia seorang diakon pekerja keras dalam Gereja Perdana, tapi basis imannya sangatlah kuat. Ia menyatu dengan Kristus dalam jiwa-raganya, sehingga akhirnya siap menerima nasib dianiaya dan wafat seperti Kristus.
Ketika kita sampai pada level mengenal dan mengerti Yesus sebagai Roti Kehidupan, penyelenggara kehidupan, kita juga mengenal diri kita sendiri yang berada dalam penyelenggaraan-Nya. Diri Tuhan dan diri kita dalam kepribadian dan kebersamaan bertemu, dan di situlah terbentuk yang lazim disebut alter Kristus dalam diri kita masing-masing. Wajah Kristus dan pekerjaan-pekerjaan-Nya akan terlihat pada diri kita masing-masing. Tidak usah lagi mencari tahu atau menyelidiki pekerjaan yang dilakukan oleh Kristus seperti ditanyakan oleh orang banyak iru. Yang ada ialah yang dibuat oleh Stefanus, hidupnya yang sama dengan cara hidup Kristus. Kita wajib melakukan yang sama.
“Allah yang Mahabaik, mengenal dan hidup di dalam Dikau adalah tujuan hidup kami yang telah diajarkan oleh Putera-Mu Yesus Kristus. Bantulah kami supaya tidak berpaling dari tujuan ini dan mampu menolak pengaruh yang berlawanan dengan Dikau. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

