Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tuntutlah ilmu hingga ke negeri China.”
(Pepatah Negeri China)
Sumur Kongzi : “Hati yang keruh itu tidak bisa buat ngaca!”
Inilah Kisah Keluarga Kongzi, seorang Guru Agung dari Negeri China (551-479 SM)
Suatu hari, Guru Agung Kongzi berjalan-jalan bersama muridnya ke tepi sebuah sungai yang airnya sedang mengalir.
“Coba lihat ke dalam air, muridku.”
Murid itu melongok ke arah air yang sedang mengalir itu. Air itu bergelombang, wajah murid itu pun pecah, tidak utuh, dan juga tidak keruan.
“Apa yang engkau lihat?” tanya Guru Kongzi.
“Tidak jelas, Guru, wajah saya hancur,” jawabnya jengkel.
Guru Kongzi lalu mengajaknya ke sebuah telaga yang airnya tenang dan sebening kaca.
“Sekarang, engkau lihat lagi ke air ini.”
Murid itu terkejut. Karena sekeping wajahnya tampak sangat jelas, setiap bintik jerawatnya tampak nyata, dan setiap helai alis matanya juga tampak jelas.
Kongzi tersenyum, kalimatnya itu memang ‘nendang’.
“Air yang jernih bisa memantulkan wajah orang. Air yang bergolak, tidak bisa memantulkan wajah orang. Nah, demikian pula hatimu, muridku.”
Kisah ini diakhiri dengan sebuah tamparan yang sangat lembut!
Mari, dicamkan!
“Jika hatimu keruh, karena ambisi besarmu, sikap tidak sabar, dan ingin cepat sukses; maka engkau tidak akan bisa melihat sekeping wajahmu sendiri. Bagaimana bisa memperbaiki diri ini, jika engkau tidak mengenal dirimu? Bagaimana bisa jadi junzi, jika tidak tahu, borok sendiri?”
(Kisah Keluarga Guru Kongzi dari Negeri Tiongkok Kuno)
Makna Filosofis dari Balik Kisah Bermakna ini!
- 1. Hendaklah sekeping hati manusia itu harus tenang dan hening, agar ia bisa merefleksikan diri.
- 2. Sikap mengenal diri adalah awal dari sebuah proses pendidikan sejati.
- 3. Sang Guru sejati tidak akan pernah menyodorkan sepotong jawaban final, tapi ia akan menyodorkan sekeping cermin.
- 4. Sesungguhnya, sebuah proses edukasi sejati itu tidak pernah akan berlangsung instan.
Refleksi
- Adapun makna sejati dari balik kisah ini, bahwa orang harus sampai 1000 kali diterpa badai ujian hidup, baru akan melahirkan seorang panglima perang yang lembut dan berbelas kasih!
“Ergo, Fidelis esto”
“Jadilah sosok pribadi yang setia”
(Santo Chrisistomus)
Kediri, 22 April 2026

