“Kami tidak sekadar mendengar pengajaran Yesus, tapi ditunjukkan isi hati-Nya.”
Allah yang Maharahim, dalam Injil, Yesus mengangkat mata-Nya ke Surga dan berdoa. Bukan untuk diri-Nya sendiri, melainkan untuk kami. Di saat salib itu sudah makin dekat, Ia tidak memikirkan penderitaan-Nya terlebih dahulu, tapi memikirkan kami. Betapa dalam kasih-Mu bagi kami!
Kami melihat, bahwa kemuliaan Yesus bukanlah mahkota emas, tepuk tangan manusia, atau kemenangan dunia. Kemuliaan-Nya justru terpancar dari salib. Di kayu salib, kasih itu berbicara paling keras. Di sana kami melihat kasih yang rela terluka, kasih yang rela berkorban, kasih yang bertahan sampai akhir.
Bapa, sering kali kami mencari kemuliaan dengan cara dunia: ingin diakui, dipuji, dihargai, dan dimenangkan. Tapi Yesus menunjukkan jalan yang berbeda: jalan penyerahan, ketaatan, dan jalan kasih yang memberi diri sepenuhnya.
Ajari kami mengenal-Mu. Bukan hanya lewat kata-kata atau pengetahuan, melainkan secara pribadi: sebagai Bapa yang telah mengenal kami, bahkan sebelum kami ada. Ajari kami mengalami hidup kekal mulai dari hari ini: hidup yang dipenuhi damai-Mu, sukacita-Mu, dan kasih-Mu yang tinggal dalam hati kami.
Seperti para murid yang berkumpul dan bertekun dalam doa sambil menantikan Roh Kudus, buatlah kami juga setia menunggu karya-Mu. Juga seperti Paulus yang tidak mundur dari panggilannya, berilah kami keberanian untuk tetap berjalan, sekalipun jalan iman tidak selalu mudah.
Kami tahu: penderitaan itu bukan akhir cerita. Salib itu bukan kekalahan. Kegelapan itu tidak menang. Melainkan kasih-Mu sudah menang lebih dahulu.
Terima kasih Bapa, karena Putra-Mu tidak hanya wafat bagi kami, tapi juga berdoa bagi kami. Utuslah Roh Kudus-Mu agar kami tetap tinggal dalam kasih-Mu, hidup dalam kesatuan dengan-Mu, dan memuliakan nama Yesus sampai akhir hidup kami.
Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

