“Roti Hidup tidak untuk dibuktikan lewat tanda, tapi untuk diterima oleh hati yang tidak menolak Roh Kudus.”
Allah yang Maharahim, Engkau mengajar kami tentang hati yang percaya.
Orang banyak meminta tanda dari Yesus, mengukur Engkau dengan cara mereka, mengharapkan bukti sesuai keinginan sendiri. Mereka mengingat manna di padang gurun, tapi tidak menyadari, bahwa kini Roti Sejati dari Surga sudah datang.
Yesus menyatakan kebenaran yang lebih dalam: bukan Musa yang memberi roti dari Surga, melainkan Engkau, ya, Bapa. Kini Engkau memberi bukan sekadar roti, melainkan Roti yang adalah Hidup itu sendiri.
“Akulah Roti Hidup.”
Yesus, Engkau bukan sekadar pemberian, Engkau adalah Kehadiran itu sendiri. Bukan hanya berkat, melainkan Allah yang jadi santapan kami.
Di tengah penolakan dan keraguan, Santo Stefanus menunjukkan iman yang sejati. Seperti Daud, ia berkata, “Ke dalam tangan-Mu…” Seperti Yesus, ia menyerahkan hidupnya sepenuhnya. Bahkan saat disakiti, hatinya tetap percaya dan tetap mengampuni.
Bapa, berikan kami hati seperti itu: Hati yang tidak menuntut tanda, tapi peka melihat kehadiran-Mu. Hati yang tidak keras, tapi terbuka untuk percaya. Hati yang berserah dalam hidup, dan tetap percaya sampai akhir.
Ajarlah kami merindukan Roti yang sejati, bukan yang sementara, melainkan Engkau yang kekal.
Saat kami datang ke Meja Ekaristi, bukalah mata iman kami. Bangkitkan kembali rasa kagum dan hormat kami, bahwa Tuhan semesta alam datang tinggal di dalam kami.
Jangan biarkan kami jadi biasa saja terhadap anugerah yang begitu besar ini. Ajarlah kami menerima-Mu dengan hati yang haus, penuh cinta, dan hormat.
Yesus, Roti Hidup, hanya Engkau yang memuaskan jiwa kami. Tinggallah dalam kami, dan ajarlah kami tinggal dalam Engkau.
Ke dalam tangan-Mu, Tuhan, kami serahkan hidup kami. Ke dalam hati-Mu, kami serahkan kerinduan kami. Dalam hadirat-Mu, kami menemukan segalanya.
“Yesus, Engkaulah Andalanku. Amin.”
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

