“Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, melainkan untuk mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu” (Yoh 17: 9).
Menjelang kepergian kepada Bapa-Nya, Yesus mendoakan para murid-Nya supaya mereka tetap satu. Doa yang tidak hanya dilakukan-Nya pada awal dan akhir karya-Nya, tapi juga sepanjang hidup bagi para murid-Nya. Ketika seseorang didoakan, berarti orang tersebut ada di dalam hati, jadi perhatian, dan sasaran kasih-Nya. Sungguh betapa berharganya kita di hadapan Tuhan, bukan?
Yesus tidak menghendaki kita binasa. Ia menghendaki agar kita memperoleh hidup yang kekal, karena kita percaya kepada-Nya.
Berdoa berarti memasuki hubungan pribadi dengan Allah. Dalam doa, kita menyatu dengan Allah dan menjadikan Dia satu-satunya kerinduan serta dambaan hati kita. Berdoa dengan sungguh-sungguh akan membawa kita kepada pengalaman perjumpaan dengan Allah. Pengalaman itu akan membekas dalam hati dan dapat mengubah hidup kita jadi lebih baik serta berkenan di hadapan-Nya. Oleh karena itu, marilah kita membiarkan Roh Kudus membimbing kita dalam doa.
Fr. Dionysius, CSE
Minggu 17 Mei 2026
Hari Minggu Komunikasi Sedunia
Kis 1: 12-14 Mzm 27: 1.4.7-8 1 Ptr 4: 13-16; Yoh 17: 1-11
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

