Dalam perayaan Hari Minggu Komunikasi Sedunia ini, kita diingatkan, bahwa pewartaan iman itu tidak terpisahkan dari cara kita berkomunikasi, baik kepada Allah, sesama, maupun dunia. Komunikasi yang sejati bukan sekadar soal teknologi atau kata-kata, melainkan cermin dari hati yang terbuka dan terarah kepada kasih.
Setelah Yesus naik ke Surga, murid-murid berkumpul. Mereka tidak langsung turun ke jalan atau berkhotbah di depan umum, tapi terlebih dahulu bertekun dalam doa. “Mereka bertekun sehati dalam doa bersama, dengan beberapa perempuan dan Maria, Ibu Yesus, dan saudara-saudara Yesus.” Inilah komunikasi pertama Gereja: bukan dengan kata-kata, melainkan dengan hati yang bersatu dalam doa, menanti bimbingan Roh Kudus. Sebuah pengingat, bahwa komunikasi yang sejati dimulai dari keheningan batin dan keterbukaan kepada kehendak Allah.
Dalam Injil, sebelum sengsara-Nya,
Yesus berdoa. Doa-Nya adalah komunikasi terdalam dengan Bapa. Ia berkata, “Aku telah memuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk Kulakukan.” Yesus adalah Sabda yang jadi manusia, komunikasi Allah yang paling sempurna. Dalam hidup, perkataan, dan pelayanan-Nya, terutama dalam salib-Nya, Ia menyampaikan kasih Bapa dengan cara yang tidak terbantahkan. Ia tidak hanya berbicara tentang kasih. Lebih daripada itu, Ia jadi kasih itu sendiri. Doa-Nya juga mencerminkan kerinduan-Nya agar para murid hidup dalam persatuan, kekudusan, dan kesetiaan pada kebenaran. Inilah esensi komunikasi Ilahi: memuliakan Allah dan membangun kesatuan di dalam kasih.
“Ya, Tuhan, mampukanlah kami menjadi alat komunikasi-Mu: menghadirkan damai, harapan, dan terang-Mu di dunia yang haus akan kebenaran. Amin.”
Ziarah Batin

