Pewartaan sejati itu tidak bergantung pada kefasihan kita, tapi pada karya Tuhan dalam hati pendengar. Kita hanya diminta untuk setia menyampaikan. Tuhanlah yang membuka hati dan mengubah hidup. Itulah yang terjadi, ketika Paulus dan rekan-rekannya tiba di Filipi. Mereka pergi ke tempat doa di luar pintu gerbang kota dan bertemu Lidia, seorang perempuan sukses yang hatinya terbuka bagi Allah.
Paulus mewartakan Injil, dan Kitab Suci mencatat dengan indah, “Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan yang dikatakan oleh Paulus.” Dari pewartaan yang setia, lahirlah pertobatan dan pembaruan hidup.
Injil mengingatkan kita, bahwa jadi saksi Kristus itu tidak selalu berarti berjalan di jalan yang mudah. Yesus berkata, “Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya setiap orang yang membunuh kamu menyangka, bahwa ia berbakti kepada Allah.” Ini bukan peringatan yang menakutkan, melainkan ungkapan kasih yang jujur dan realistis. Tuhan tidak menjanjikan hidup yang bebas dari penderitaan, tapi Ia senantiasa setia di tengah setiap kesulitan yang kita hadapi. Penderitaan itu bukan tanda, bahwa Tuhan meninggalkan kita, melainkan bagian dari panggilan untuk setia membawa terang di tengah dunia yang gelap.
“Ya, Tuhan, curahkanlah Roh Kudus-Mu agar kami mampu bersaksi di dunia ini dengan kasih, keberanian, dan kebenaran. Amin.”
Ziarah Batin

