1.
Malam menulis memoar di wajahmu
Kisah hari yang telah berlalu
tentang angin debu suara margasatwa
tentang ratapan hutan belantara yang telah jadi arang dan abu
tentang suka duka kelana manusia
tentang ziarah tanya setiap pribadi
tentang harapan dan rindu damba misteri
Kita berjibaku dan berjuang mematok ruang dan mengais waktu
2.
Angkasa datang membaca semua cerita
Gulita mengurai semua fakta cerita
Semua tanya dan jawaban diramu
lalu menjelma dalam tetesan embun bening
Berkilau diterpa cahaya mentari pagi
tetapi akan sirna entah pergi kemana
Daun-daun talas merekam dalam diam tanpa tanya
Manusia yang peduli coba mencerna
agar bisa temukan makna sejati
Apa dan siapakah aku ini?
3.
Ketika angkasa menangis membasuh buana
Debu tanah basah dan hanya pasrah
Ada pepohonan yang segar dan ikut menyimpan airnya
Ada tanah gundul yang jadi lumpur
Ada bukit gersang yang longsor dan terbawa banjir
Ada bencana melanda dan tak mampu ditunda
tak peduli ada korban harta dan jiwa
Pengalaman menggugat manusia menyibak misteri
dengan kreasi ilmu dan teknologi
Terus berevolusi hingga zaman ini
4.
Sedangkan yang biasanya terjadi Daun-daun talas hanya menadah remah-remah butiran air hujan
yang kemudian akan pergi sirna
Ada hukum alam yang silih berganti terjadi
Ada perubahan wajah alam lingkungan
Ada kemajuan ilmu dan teknologi
Ada ledakan populasi manusia di bumi yang terbatas ini
Ada kreasi manusia terus menjelma penuh energi
Manusia mengubah gaya wajah dan sosok diri
Apakah nasib kehidupan seperti air di daun talas?
5.
Jika nasib manusia seperti air
Mungkin tidak ada susah dan senang
tetapi hanya soal keterbatasan bahasa manusia
Karena air selalu menyesuaikan diri mengikuti hukum alam
Mungkin hanya soal perasaan dan pikiran manusia
Jika sejarah kehidupan seperti daun talas
maka energi perubahan adalah kebenaran sejati
Bukan kemanusiaan dan keadilan
Bukan hak dan kewajiban
Tetapi…
hanya pengalaman tanya rindu damba
seperti air di atas daun talas
Kita hanya singgah sebentar di realitas dunia

