Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Siapa yang menjaga mulut dan lidahnya, menjaga dirinya dari kesukaran.”
(Amsal 21:23)
Frase ‘Mulut-mulut Bawel’
Adalah sebuah frase idiomatik yang berkonotasi negatif, menunjuk pada pribadi yang: banyak bicara, sering mengeluh, mengeritik tanpa henti, atau pribadi penyebar gosip yang mematikan.
Sebuah Analogi Aktual
Saya masih sangat ingat akan sebuah kisah paling menarik, bahwa ‘orang-orang yang suka: mengeritik, menggosip, berbicara, serta mengeluh dapat dianalogikan dengan seseorang yang sedang berjalan sambil mencabut dan melepaskan bulu-bulu ayam ke udara. Dalam seketika, bulu-bulu ayam itu pun diterbangkan oleh angin ke mana-mana.’ Itulah dampak dari sikap si ‘lingua maledica’ (Latin), alias ‘lidah pencela atau si lidah jahat!’ Saudara, mengerikan, bukan? Inilah karakter tercela dari pribadi gosipis alias mulut ember.
Penilaian yang Asbun
Di sebuah apartemen hiduplah sepasang suami istri muda yang baru menikah.
Ketika tiba-tiba terdengar bunyi gaduh, seorang wanita tetangga berkata, “Dia pasti sedang memukul istrinya.” “Ya, tapi istrinya juga bukanlah seorang wanita lemah,” sambung wanita lainnya.
Kemudia kegaduhan itu kian mencekam nurani. “Saya kira, dia hanya menutupi suara tangis istrinya, karena terdengar suara yang kian melemah,” celetuk wanita lainnya lagi. Bahkan salah seorang dari mereka berniat untuk mengajak polisi agar bisa membantu meredakan percekcokkan dasyat itu.
Pada saat itu, kakek Maier yang tidak ikut nimbrung bersama wanita-wanita itu bersuara, “Mengapa kalian tidak membiarkan pasangan muda itu melakukan yang mereka inginkan? Mungkin saja mereka sedang memindahkan perabotan rumah.”
“Tapi kakek Maier, saya mendengar ada suara rintihan dan erangan.”
Pada saat itu, pintu pun terbuka dan pasangan muda serasi itu ke luar sambil tersenyum kepada wanita-wanita tetangga dan bertanya, “Ada apa ya? Mudah-mudahan tidak ada masalah serius.” Namun tidak seorang pun yang dapat menyahutnya.
Kemudian kakek Maier berkata, “Tidak apa-apa. Kami hanya kebetulan ke luar bersama-sama.”
“Hebat,” sahut wanita muda itu. “Tadi saya kira ada sesuatu yang telah terjadi. Kami berdua meminta maaf atas semua kegaduhan yang telah terjadi di apartemen kami. Tadi kami memindahkan perabotan dan membentur sana-sini dan bahkan sempat memecahkan sebuah hiasan lampu.”
Kakek Maier tersenyum lebar, ketika kedua pasangan muda itu melewati kerumunan para wanita tetangga itu. Mereka saling memandang tanpa suara dan segera membubarkan diri.
(Herbert Berger)
1500 Kisah Bernakna
Sebuah Peri bahasa
“Pertama-tama kita membentuk sebuah kebiasaan dan kemudian kebiasaan tersebut akan mengendalikan kita”
(John Dryden)
Secara sosial dan psikologis sebuah karakter dapat dibentuk dari suatu pembiasaan yang dibiarkan terjadi berulang-ulang, maka lambat laun kebiasaan itu jadi sebuah karakter khas dari seseorang.
Lihatlah bagaimana bawelnya mulut-mulut para wanita tetangga itu. Betapa rapuh dan cengengnya tabiat murahan yang mereka sempat tampilkan kepada sebuah pasangan muda itu. Inilah sebuah peristiwa ‘kesia-siaan kata’ alias ‘verborum ventositas’
(Latin).
Refleksi
- Menghadapi kondisi tetangga yang bermulut bawel, janganlah sekali-kali mau melawannya, tapi biasakan diri Anda untuk bersikap arif dengan cara menciptakan keheningan sejati.
- Maka, berlatihlah untuk mampu mengendalikan diri dengan pandai menjaga lidah dan mulut Anda.
- Bukankah sebuah keheningan sejati itu justru akan mampu mengahalau kegaduhan yang terlempar lewat mulut-mulut bawel?
- “Peperangan kami yang paling dasyat adalah peperangan melawan pikiran kami sendiri” (Jameson Frank)
Kediri, 21 Mei 2026

