Tumbuh pesatnya aliran-aliran Protestantisme tentunya, di satu pihak menggembirakan, karena semakin banyak orang mewartakan Injil dan memberi kesaksian tentang Yesus. Tapi di lain pihak semakin meresahkan dan membingungkan orang lain di luar kekristenan, karena masing-masing mengklaim diri sebagai yang dikehendaki Yesus dan paling benar.
Kita mendengar doa Yesus: “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yoh 17: 21). Bahkan betapa pentingnya persatuan para pengikut-Nya sehingga Yesus juga menghendaki kita semua berada di bawah tuntunan satu Gembala seperti sabda-Nya, “Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala” (Yoh.10: 6).
Dengan demikian kita bisa menyimpulkan, bahwa:
- 1) Yesus menghendaki adanya persatuan di antara para pengikut-Nya agar tetap berada di dalam satu kawanan dan di bawah satu tuntunan satu Gembala;
- 2) Persatuan antara para pengikut Yesus menjadi bukti, bahwa kita satu dengan Yesus dan Bapa yang adalah satu;
- 3) Persatuan terbaik dari para pengikut Yesus hanya terlihat sempurna di dalam Gereja Katolik yang diperuntukan bagi segala suku dan bangsa.
Ingatlah yang dikatakan oleh Paus Yohanes Paulus II: “Perpecahan dalam kekristenan adalah skandal, karena bagaimana orang lain percaya kita adalah pengikut Kristus, bila tercerai berai?”
Camkan! Bahwa keharusan bersatu itu adalah doa Yesus. Dengan kata lain, bila terjadi perpecahan maka itu melawan doa Yesus dan bukan hasil kerja Roh Kudus.
Yesus mempersatukan, tapi hanya setanlah yang memisahkan dan mencerai beraikan.
Monsignor Inno Ngutra, Pr

