Menghitung ulang kenaikan harga bahan-bahan, kemasan, dan biaya produksi itu adalah prioritas utama, ketimbang kita mengeluh, ngomel, menyalahkan pihak lain, dan stres. “Apakah cara berjualan kita selama ini sudah benar?”
Sebagai pelaku umkm, kita kaget dan shock berat. Khususnya harga kemasan plastik yang melambung di luar nalar hingga 100%.
Dulu, ketika memproduksi roti, saya menagih harga bahan ke diri sendiri itu lebih mahal, ketimbang harga dari pemasok. Selisih dari harga itu digunakan sebagai dana cadangan (tabungan).
Tujuannya yang lain adalah untuk menyiasati, jika terjadi lonjakan kenaikan bahan agar tidak segera roti itu dikecilkan, bumbu dikurangi, dan kemasan dirubah. Apalagi saat sedang usaha sepi. Tapi dengan menjaga kualitas dan besaran roti, penjualan kita jadi laris manis.
Dengan menerapkan disiplin ketat, setiap hari saya menyisipkan uang ke amplop-amplop guna membayar ke suplayer agar penggunaan uang dikelola baik. Sedang kelebihannya untuk modal pengembangan usaha, tidak untuk membeli barang konsumtif dan gengsi!
Berdagang roti dan kerupuk itu berbeda. Jika roti itu dijual satuan, sedang kerupuk itu perpak berisi 10 dan 20 bungkus.
Kini, kenaikan harga bahan-bahan yang meroket itu harus disiasati. Saya harus menghitung ulang seluruh sektor agar usaha ini tidak boncos. Saya harus mengurangi isi, menaikkan harga, atau…?
Seperti pemain baru yang sedang merintis jalan itulah yang dihadapi oleh para pelaku umkm yang tidak mungkin berhenti produksi. Karena harus menanggung karyawan, membayar hutang ke pemasok, atau kredit yang lain.
Dalam situasi kondisi Ekonomi sulit dan tidak menentu, saya terpaksa mengurangi produksi agar tidak banyak be-es dan makin boncos. Sebaliknya saya rajin survei pasar untuk melihat produk sejenis dari para pesaing. Mereka mengurangi dan mengecilkan isi, menaikkan harga, dan seterusnya. Sekaligus, jika memungkinkan mencari agen baru dengan penggunaan merek baru untuk mengaburkan image pesaing atau pelanggan.
Meski sikon Ekonomi berat dan sulit, saya tidak menyerah. Di pundak ini, banyak keluarga menggantungkan harapan pada saya. Prioritas utama dan pertama adalah saya harus mampu melewati krisis ini dengan selamat.
“Gusti nyuwun pitulungan.”
Niat ingsun!
Mas Redjo

