“Engkau akan pergi, atau menerima Hidup?”
Allah yang Maharahim, Putra-Mu mengucapkan sabda yang melampaui akal manusia: “Daging-Ku adalah benar-benar makanan, dan Darah-Ku adalah benar-benar minuman.”
Banyak orang tidak sanggup menerimanya. Banyak yang memilih pergi.
Seperti Saulus yang dahulu menolak kebenaran dan jadi buta di jalan menuju Damsyik, demikian juga hati manusia sering tidak mampu melihat, bahwa yang berdiri di hadapannya bukan sekadar lambang, melainkan Juru Selamat yang memberikan diri-Nya seutuhnya.
Yesus tidak menarik kembali sabda-Nya. Ia tidak mengurangi misteri itu. Sebaliknya, Ia mengulanginya, lebih dalam dan tegas. Karena yang Ia berikan bukan sekadar pengertian, melainkan Hidup itu sendiri.
Bapa, betapa sering kami ragu di hadapan misteri yang tidak kami pahami sepenuhnya. Kami berhenti di ambang iman, takut untuk melangkah lebih dalam.
Kini Engkau mengingatkan kami: iman bukan tentang menguasai misteri, melainkan tentang menyerahkan diri kepada Kasih.
Seperti Saulus yang berserah dan diubah jadi Paulus, ubahlah kami pula, ya, Tuhan, setiap kali kami menyambut Tubuh dan Darah Kristus.
Dalam Ekaristi, Engkau tidak tinggal jauh, Engkau masuk ke dalam kami,
tinggal, dan jadi hidup kami.
Seperti seorang anak yang bertumbuh dalam rahim, kami hidup dari kehidupan yang tidak terlihat, tapi memberi kami segalanya.
Inilah pusat iman kami: bukan hanya mengenang, melainkan menerima dan percaya untuk dipersatukan. Bukan hanya mencari Engkau, melainkan hidup di dalam Engkau.
Yesus, Roti Hidup, kami percaya, meski kami belum sepenuhnya mengerti. Kami menerima, meski hati kami gentar di hadapan misteri.
Yesus, kami memilih untuk hidup oleh-Mu, hari ini dan selamanya. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

