Aku berkata kepadamu: “Sesungguhnya seorang hamba itu tidaklah lebih tinggi dari pada Tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya (Yoh 13: 16).
Tuhan Yesus adalah teladan utama dalam ketaatan dan kerendahan hati. Meskipun Ia adalah Allah, Ia tidak mempertahankan kemuliaan-Nya, tapi merendahkan diri dan jadi hamba. Ia taat sampai wafat di kayu salib (bdk. Flp 2: 6-8).
Yesus tidak pernah mempertanyakan kehendak Bapa, tidak protes, dan tidak menolak jalan salib yang harus Ia tempuh. Sebaliknya, Ia menegaskan, “Makananku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh 4: 34).
Sikap Yesus ini mengajak kita untuk hidup dalam kerendahan hati dan ketaatan. Dalam kehidupan bersama, kita dipanggil untuk menghormati dan menaati mereka yang dipercaya memimpin kita: Pemimpin Komunitas, Ketua Lingkungan, maupun Imam yang menggembalakan umat. Melalui mereka, Allah sering kali menyatakan kehendak-Nya.
Walaupun kita tidak selalu memahami rencana Tuhan, tapi kita percaya, bahwa kehendak-Nya adalah yang terbaik bagi hidup kita. Kita akan menemukan sukacita sejati, ketika bersedia melaksanakan kehendak-Nya dan membuka hati untuk dibimbing oleh-Nya.
Semoga teladan Yesus meneguhkan kita untuk taat, rendah hati, dan setia menjalani kehendak Allah.
Sr. M. Emma, P. Karm
Kamis, 30 April 2026
Kis 13: 13-25 Mzm 89: 2-3.21-22.25.27; Yoh 13: 16-20
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

