1.
Purnama Akhir April
Kemarin wajahmu basah diguyur hujan
pesonamu purnama nampak buram
mungkin karena terhalang pekat awan kelam
Ataukah lagi iba pada senandung lara
Mereka yang jadi korban bencana
Mereka yang galau nestapa tak berdaya
di tengah sumber daya alam yang kaya raya
Purnama…
musim di negeri ini berbeda-beda
Ada yang masih diguyur hujan
Ada yang tak pasti panas dan angin
Ada yang merintih disengat terik kepanasan
Cuaca sedang berubah tak menentu
seperti nasib pun berpacu galau
Setiap pribadi harus berjibaku mengejar waktu
dinamika perubahan iramanya tak menentu
Purnama…
akhir April engkau datang lagi
Ada yang menanti dan banyak yang tak peduli
Memang indah pesonamu warna-warni
namun lebih penting menjamin kebutuhan pribadi
Apalagi tagihan kebutuhan pokok dan ekonomi
di tengah konflik dunia yang terjadi
Purnama…
hadirmu di akhir April ini
kiranya membawa harapan benih damai
bagi negara yang sedang bertikai
Wahai Purnama…
Tolong katakan pada Ibu bumi
ajar kami sadari hakikat diri
Tolong mohonkan pada sang mentari
berikan cahaya bagi nurani
dan harmoni bagi sanubari pribadi
Karena kami hanya bagian kecil dari semesta ini
dan tak mampu hidup tanpa alam lingkungan
Tak pernah bahagia hanya dengan kesombongan akal dan kerakusan
2.
Irama Kreasi Zaman Digital
Desah nafas itu irama
syairnya adalah udara
Detak jantung itu nada musik
syair lagunya ditulis desir darah
Kadang disadari
Namun
Sering dianggap biasa-biasa saja
Bahkan banyak kali diabaikan
Jemari tangan berganti profesi
sekarang trampil menari-nari
di layar gadget dan panggung sosmed
Banyak yang membisu dan gila
tak peduli pada sesama saudara
Apalagi peduli jagat semesta
karena dunia maya semakin mempesona

