Dalam perjalanan tilik sedulur, saya menyaksikan pemandangan yang menggetarkan: para suami senja yang setia membesarkan hati istri mereka di tengah kepungan sakit. Saat diabetes dan gangguan saraf menggerus raga serta memori, para suami ini hadir sebagai ‘penyambung napas’ harapan. Mereka tidak sekadar merawat fisik, tapi menghidupkan kembali nyala jiwa yang hampir padam.
Kelembutan ini membawa ingatan saya pada Bunda Maria. Seperti para suami yang sabar menuntun, Maria adalah Bunda yang tak lelah membesarkan hati manusia. Saat beban hidup melumpuhkan langkah atau saraf iman kita melemah, ia hadir membisikkan kekuatan.
Sebagaimana di Pesta Pernikahan Kana, Maria membesarkan hati kita agar tetap percaya sepenuhnya pada Puteranya. Ia meyakinkan, bahwa di balik penderitaan, selalu ada ruang bagi ‘mukjizat’ bagi mereka yang bersandar pada Yesus.
“Bagi siapa pun yang merasa lelah atau hilang arah, semoga catatan kecil dari perjalanan saya ini bisa menjadi ‘penyambung napas’ harapan.”
Mari kita bangkit bersama Bunda Maria.
Berkah Dalem.
Jlitheng

