Jadi ‘kawanan kecil’ di tengah kelompok mayoritas itu adalah tantangan tersendiri. Kita memang tidak berdiri di hadapan penguasa seperti Paulus di hadapan Raja Agripa. Tapi setiap hari kita berhadapan dengan pilihan: tetap setia atau memilih diam demi rasa aman dan nyaman. Kita tahu rasanya disalahpahami, diabaikan, atau bahkan direndahkan, karena iman kita. Akan tetapi, seperti Paulus, iman bukan hanya perkara pribadi; iman adalah misi. Paulus tidak membela diri, tapi ia bersaksi. Baginya, keselamatan orang lain lebih penting daripada citra atau kenyamanan pribadi.
Kita juga tidak sempurna. Hidup Petrus jadi cermin yang sangat manusiawi bagi kita. Ia menyangkal Yesus bukan hanya dengan kata-kata, melainkan juga dengan sikap. Kita pun sering melakukan hal serupa, yaitu ketika kita memilih aman, mengikuti arus, atau lebih mengutamakan penerimaan orang lain daripada kebenaran Kristus. Luar biasanya, Yesus justru tidak menjauh. Ia mendekat. Ia tidak menghakimi, tapi bertanya dengan lembut, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Lalu, Ia memercayakan sesuatu yang besar, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Yesus memulihkan Petrus bukan dengan menuntut penjelasan, melainkan dengan memberikan kepercayaan. Inilah kasih sejati; yang tidak hanya menutupi masa lalu, tapi juga membuka masa depan.
“Ya, Tuhan, kuatkan kami untuk tetap setia, melayani dengan kasih, dan jadi saksi-Mu di tengah dunia ini. Amin.”
Ziarah Batin

