1.
Pada mulanya cermin itu ada
Bukan karena manusia ingin melihat mukanya
Bukan karena diri ingin mengenal wajahnya
Bukan juga agar bisa menghitung jumlah rambut
Bukan pula agar seluruh sosok kelihatan
Namun…
debu tanah menyusun seluruh raga asali
Udara hembuskan nafas bagi jiwa raga
Lalu…
debu tanah dan udara adalah cermin jiwa raga
Tak peduli diminta atau tidak
Tak berhenti disukai atau dibenci
2.
Ketika kelana mengembara melintas alam
Cahaya mentari siang berikan bayangan raga
Sinar rembulan malam melukis tiruan sosok diri
Kolam bening memotret wajah pribadi
saat merunduk ingin melerai dahaga
Ada tanya dan rindu damba
agar semakin mengenal sosok wajah
Lahirlah kreasi menciptakan cermin
sehingga setiap saat bisa berdandan
Cermin tak bisa berbohong pantulkan apa adanya
3.
Di hadapan cermin kaca buatan
ternyata kita tak bisa berbohong
ternyata cermin tak bisa menipu
Karena yang dipantulkan adalah apa yang ada
entah hitam putih wajah kita
entah sebagus apa dandanan kita
entah apapun merek kosmetiknya
entah asesoris dan pakaian semahal apa pun
Bahkan…
jika seribu topeng kita gunakan
untuk jadi apa dan siapa
Kaca cermin tak bisa berbohong
Apalagi debu tanah dan udara bagi jiwa raga
4.
Dalam kehidupan ada aneka peran
karena dunia dijadikan panggung sandiwara
Ada banyak ragam pilihan jadi apa dan siapa
Ada banyak sarana dan cara untuk membungkus keaslian dan kebenaran fakta
Namun…
ternyata di depan cermin pribadi
aku, engkau, kita semua tak mampu berbohong
Di hadapan cermin jagat semesta
semuanya telanjang jiwa raga
Bahkan ketika cermin dihancurkan
dan jiwa raga lari bersembunyi

