“Seharum-harumnya wangi parfum, lebih harum itu bau uang recehan.” -Mas Redjo
Tidak harus melotot, tersinggung, atau kepo dengan analogi itu.
Fakta itu real, apalagi di saat harga kebutuhan pokok melambung tidak terkendali. Melemahnya nilai rupiah terhadap USD. Dunia usaha makin lesu, dan umkm yang mati suri…
Tengoklah ke pasar. Lebih banyak orang yang berjualan, ketimbang mereka yang belanja. Begitu pula di mall. Lebih banyak di antara mereka yang sekadar ngadem dan cuci mata.
Tidak hanya sepi. Ternyata banyak toko, tempat usaha yang tutup, diover kontrak, dan bahkan dijual.
“Jika hp mempunyai nada dering dan getar, untuk dunia usaha saat ini adalah nadanya bertahan dan bersyukur, kita numpang makan,” kata ED, Bos pabrikan makanan ringan itu serius.
Berbagai cara dicoba oleh ED untuk mendongkrak penjualan. Selain memproduksi varian baru, berjualan online, rajin ber-TikTok-an, memberi diskon atau poin hadiah. Faktanya, penjualan tetap lesu. Perputaran uang itu dapat diketahui dari arus barang yang ke luar dan total uang transaksi digital yang masuk.
Berbeda dengan ED adalah ML yang grosir makanan ringan dan kemasan plastik. Untuk menyiasati penjualan, ia jadi pemburu dengan bergerilya ke umkm ke luar masuk kampung. Ia minta referensi dari para relasinya itu untuk dikunjungi, sambil ‘nganvas’ barang dagangan.
Bagi ML, untuk mengetahui roda perekonomian di bawah berbegerak atau berputar itu bukanlah hal yang sulit, ketika banyak pelanggannya itu membayar menggunakan uang receh dua ribuan yang baunya lebih harum daripada parfum.
ML menyadari dan memaklumi, karena ia pemburu uang receh!
Mas Redjo

