“Kekhawatiran dan ketakutan itu tidak bisa menjamin hari esok. Tapi kepercayaan membuka hati kami pada rahmat-Mu.”
Allah yang Maha Pengasih, Sabda-Mu mengajukan pertanyaan yang sangat mendasar: “Siapa yang sungguh bertahta di hati kami?”
Awalnya adalah Raja Yoas memulai dengan baik, lalu menjauh dari-Mu. Ia mendengarkan suara-suara yang menyesatkan, hingga hidupnya perlahan dikuasai oleh kesombongan, ketakutan, dan kompromi.
Betapa mudahnya hal yang sama terjadi dalam hidup kami. Semula kami memulai dengan semangat, tapi sedikit demi sedikit membiarkan uang, kenyamanan, gengsi, kontrol, atau kecemasan itu jadi ‘allah’ tersembunyi kami.
Yesus berkata dengan sangat jelas: “Kamu tak dapat mengabdi kepada dua Tuan.”
Bapa, sering kali kecemasan kami menyingkapkan yang sebenarnya kami sembah. Ketika hati dikuasai rasa takut, kami ingin mengontrol segalanya. Ketika rasa aman kami bergantung pada harta, status, atau pengakuan manusia, kecemasan itu pun tumbuh.
Yesus mengundang kami pada jalan yang berbeda. Ia menunjuk burung-burung di udara dan bunga bakung di ladang. Mereka tidak hidup dalam kepanikan, tapi tetap Engkau pelihara. Keberadaan mereka mewartakan satu kerahiman besar: “Engkau adalah Bapa yang setia.“
Pemazmur mengingatkan kami: “Perjanjian-Mu tetap teguh. Sekalipun kami tidak setia, kasih setia-Mu tidak pernah berakhir.”
Sungguh, betapa hal ini menghibur hati kami, Bapa!
Kekhawatiran itu tidak menambah satu jam dalam hidup kami. Ketakutan itu tidak bisa menjamin hari esok. Tapi kepercayaan membuka hati kami pada rahmat-Mu.
Bapa, ajarlah kami untuk menyadari, bahwa ketakutan sering kali berteriak dengan lantang, tapi Engkau, Allah yang Maha Pengasih selalu hadir dengan penuh kuasa.
Ketika masa depan terasa tidak pasti, kami tahu Engkau sudah berada di sana. Cobaan menyingkapkan kelemahan kami, agar kami bersandar pada kerahiman-Mu yang tak terselami.
Ketika kami dipanggil untuk bersaksi tentang Kristus di dunia yang penuh ketakutan ini,
kiranya hati kami tetap tertambat hanya pada-Mu.
Roh Kudus, tuntun kami untuk lebih dahulu mencari Kerajaan Allah, menata ulang prioritas hidup kami, dan bebaskan dari perbudakan kekhawatiran. Juga ajarlah kami bekerja dengan tekun, hidup dengan bijaksana, dan percaya dengan sukacita.
Kami memilih percaya, karena masa depan kami paling aman di dalam tangan-Mu.
Kami lebih berharga daripada burung-burung di udara. Kami lebih Engkau kasihi daripada bunga-bunga di ladang. Kami berada dalam pelukan kerahiman-Mu.
Yesus, Engkaulah Andalanku. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

