Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tanpa Kedewasaan Bersikap, Pernikahan hanyalah ibarat Bocah Bermain Layang-layang”
(Amanat Hidup Sadar)
Sering kehidupan berumah tangga itu diibaratkan dengan “sebuah bahtera di tengah samudra.”
Adapun fokus refleksi kita menyangkut aspek “suka duka dan seni hidup berkeluarga,” hadirnya fenomena “Perselingkuhan di dalam rumah tangga.”
Hal ini menyangkut sebuah fenomena yang sangat kompleks dan jarang disebabkan oleh satu faktor tunggal.
Bertolak dari aneka studi psikologi dan sosiologi, berikut ini adalah ‘akar’ dan sejumlah faktor penyebab utamanya!
- 1. Faktor Internal (Psikologis dan Kepribadian):
Kebutuhan Emosional yang tidak Terpenuhi: Inilah faktor penyebab yang paling umum.
Pasangan itu merasa dirinya tidak didengar, dihargai, atau ia kesepian, meskipun sedang ada bersama pasangannya. Akhirnya, mereka mencari ‘pelarian’ kepada orang lain yang dirasakannya justru memberikan perhatian ekstra dan validasi emosional.
Kepribadian Narsistik atau Impulsif: Setiap individu yang memiliki sifat narsis cenderung membutuhkan pujian terus-menerus dan kurang memiliki empati terhadap perasaan pasangannya. Sedang sifat impulsif itu membuat seseorang sulit untuk menahan godaan sesaat tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang.
Rasa Bosan dan Rutinitas: Dalam relasi jangka panjang, rasa “kupu-kupu di perut” (Fase Honeymoon) akan memudar. Bagi sebagian orang muda, yang terbiasa dengan stimulasi cepat, transisi ke cinta yang tenang dan stabil akan terasa membosankan, sehingga ia akan mencari sensasi baru.
- 2. Faktor Relasional (Dinamika Pasangan)
Aspek Komunikasi yang Buruk: Ketidakmampuan untuk membahas bersama masalah, konflik, atau kebutuhan seksual secara terbuka dan dewasa. Bahkan masalah kecil yang dibiarkan menumpuk justru akan jadi jurang terjal pemisah.
Ketidakpuasan Seksual: Perbedaan libido atau ketidakcocokan dalam preferensi seksual yang tidak pernah dibicarakan, justru bisa memicu frustrasi dan pencarian pemuasan di luar nikah.
Kurangnya Intimitas Emsosional: Pasangan Anda justru lebih sibuk dengan urusan masing-masing (pekerjaan, gadget, teman karib), sehingga kualitas waktu untuk keintiman bersama (quality time), pun menurun drastis.
- 3. Faktor Eksternal dan Lingkungan
Pengaruh Media Sosial: Kemudahan untuk terhubung kembali dengan mantan pacar atau bertemu orang baru melalui aplikasi kencan / media sosial akan menciptakan ‘kesempatan’ yang dulu tidak ada. Fenomena micro-cheating (selingkuh mikro, seperti chat mesra dengan orang baru), justru sering dimulai dari kondisi riil ini.
Lingkungan Kerja dan Pergaulan: Banyak peristiwa perselingkuhan justru terjadi, karena kedekatan intens dengan rekan kerja atau teman yang memiliki frekuensi sama, terutama jika pasangan asli sedang berada jauh atau sibuk.
Tekanan Ekonomi dan Stres Hidup:
Keluarga muda sering menghadapi tekanan finansial (cicilan atau biaya anak). Stres ini biasanya akan memicu konflik dan menyebabkan pasangan mencari pelarian emosional yang ‘lebih mudah’ didapat di luar rumah.
- 4. Faktor Nilai dan Moral
Pergeseran Nilai Komitmen: Pada beberapa kasus, ada pandangan, bahwa kebahagiaan pribadi lebih penting daripada janji pernikahan. Jika hubungan sudah ‘tidak menyenangkan’ alasan untuk keluar dari komitmen justru jadi lebih lemah.
Kurangnya Pemahaman tentang Hakikat Pernikahan:
Memandang pernikahan hanya sebagai penyatuan antar dua individu yang saling mencintai dan bukan sebagai ikatan spiritual serta tanggung jawab sosial yang memerlukan pengorbanan dan kerja keras.
Mengapa Keluarga Muda justru lebih Rentan?
Ya, terutama, karena keduanya masih dalam tahap penyesuaian diri (adjustment phase). Mereka belum miliki pola komunikasi yang matang, belum sepenuhnya memahami karakter pasangan dalam jangka panjang, dan masih rentan terhadap godaan eksternal, karena masa eksplorasi diri yang mungkin belum sepenuhnya selesai.
Berikut ini Sejumlah Solusi Pencegahannya
- Agar keduanya segera membangun komunikasi secara terbuka.
- Agar keduanya perlu menjaga intimitas antar keduanya.
- Agar keduanya mampu batasi relasi personal dengan pihak ketiga.
- Agar keduanya perlu menginvestasi waktu bersama.
- Agar keduanya memperkuat fondai spiritual atau nilai sakral dari pernikahan.
“Langgenglitas dan Keutuhan sebuah Keluarga itu justru sangat Bergantung dari Aspek Kedewasaan antar Keduanya!”
Kediri, 19 Juni 2026

