Seorang siswa SMP lulusan terbaik di sekolahnya mengucapkan ungkapan syukur; pertama-tama ia berdoa di kamarnya untuk berterima kasih kepada Tuhan. Lalu ia pergi ke Ibu Bapaknya untuk menyampaikan sukacita dan terima kasihnya.
“Terima kasih Ibu dan Bapak, aku berusaha untuk tetap jadi anak yang baik dan setia kepada Ibu dan Bapak.”
Seorang anak yang setia, patuh, dan menyayangi orangtuanya akan berbuat yang terbaik untuk membahagiakan mereka. Ia tidak pernah mempunyai niat untuk mengecewakan atau menyakitkan mereka. Inilah yang dimaksudkan dengan seorang anak memiliki devosi kepada orangtuanya.
Demikian juga, jika doa-doa kita penuh devosi kepada Tuhan, itu berarti kita berdoa dalam posisi sebagai putra-putri atau anak-anak yang patuh dan setia kepada Tuhan.
Doa “Bapa Kami” merupakan doa yang berdevosi, karena merupakan doa Yesus Kristus sebagai Putra Allah, yang menyatukan kita semua sebagai saudara-saudari-Nya, untuk menempatkan diri kita di bawah kuasa perlindungan Bapa di Surga. Doa devosi ini berisi kata-kata sederhana berupa pujian, kemuliaan, syukur, dan permintaan. Doa anak-anak selalu memiliki ciri-ciri seperti itu.
Sedangkan doa orang besar, penguasa, cendekia, dan cerdik pandai itu cenderung jadi doa yang berlebihan. Mereka lebih suka membanjiri Tuhan dengan kata-kata indah, puitis, megah dan bertele-tele. Mereka cenderung menyampaikan kemampuan dan prestasi mereka di dunia seperti ingin menunjukkan, bahwa mereka begitu penting di hadapan Tuhan. Sibuk dengan sebegitu rumitnya isi kata-kata itu, mereka lupa untuk bersyukur dan memohon kepada Tuhan.
“Bapa Kami” merupakan doa yang berdevosi, karena mengungkapkan ketulusan dan komitmen, bahwa mengambil bagian dalam Yesus Kristus adalah panggilan. Ini berarti, berada jauh atau bahkan di luar Yesus, sapaan kepada Tuhan sebagai “Bapa” akan jadi aneh dan tidak logis. Devosi sangat menuntut ketulusan dan komitmen.
Doa “Bapa Kami” sebagai doa yang berdevosi, karena didoakan setiap saat, didoakan oleh publik, dan didoakan dalam semua jenis ibadat. Singkatnya doa ini model bagi semua jenis doa orang-orang beriman. Doa ini diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan dialek, maka dapat didoakan siapa saja dan di mana pun.
“Bapa Kami” sebagai doa yang berdevosi, karena memakai kata “kami” yaitu semua pribadi orang-orang percaya yang berdevosi kepada Bapa yang ada di Surga. Kita tidak memakai kata “aku” yang berarti untuk diri sendiri, atau “kita” yang tidak tepat untuk komunikasi doa dua arah, antara Tuhan dan si pendoa.
“Ya, Bapa di Surga, semoga semangat doa kami tetap kuat dan membantu kami jadi kudus. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

