Pada suatu hari Minggu pagi, seorang Pastor bersiap untuk merayakan Misa di salah satu paroki yang berjarak 20 kilometer dari kota tempat ia tinggal. Ia menyetir mobil melewati jalan yang bekelok-kelok dengan kecepatan antara 60-80 km per jam. Saat tinggal 3 kilometer sampai di Gereja, jalanan ditutup. Karena ada kegiatan bakti sosial yang dilakukan oleh warga masyarakat setempat. Semua kendaraan harus memilih jalan lain.
Waktu untuk perayaan Misa tinggal 20 menit. Ia harus mencari jalan lain agar segera sampai di Gereja. Awalnya ia kehabisan akal dan tidak tahu harus berbuat. Tapi ia segera menyadari, bahwa GPS (navigasi) di handphone dapat membantu. Ia menyetel GPS untuk mengarahkannya ke gereja. Dalam waktu kurang dari 10 menit ia sudah berada di halaman parkir Gereja, tepat waktunya untuk persiapan diri di Sakristi dan Misa akan segera dimulai.
Ibarat GPS yang mengarahkan kita jalan dengan memakai suara, grafik arah jalan, peringatan dan pemberitahuan yang diperlukan, GPS di dalam perjalanan iman kita juga melakukan pekerjaan yang sama. GPS dalam iman kita ialah Tuhan Yesus Kristus. Ia menyebutkan identitas diri-Nya sebagai Jalan yang dilalui untuk sampai kepada tujuan kita, yaitu keselamatan dan persatuan kita dengan Bapa di Surga. Sebagai Jalan bagi kita, Ia memberikan kita kebenaran yang jadi makanan utama kita supaya kita memiliki kehidupan yang sesungguhnya dan sepenuhnya. Kehidupan yang sempurna ialah di Surga.
Firman Tuhan memberikan kita dua refleksi, betapa fundamentalnya pendasaran iman kita pada Tuhan Yesus sebagai jalan kita.
- Pertama ialah Tuhan Yesus Kristus sebagai penyelamat kita. Di tengah bahaya dan kesulitan yang menimpa hidup kita, Ia jadi solusi dan jawaban sehingga kita tidak binasa dan mati. Kejadian di dalam Gereja Perdana di Yerusalem, adalah perpecahan di antara para anggotanya. Tapi kuasa Allah datang untuk menyelamatkan Gereja dengan ditetapkannya enam orang diakon.
- Kedua ialah Tuhan Yesus memberikan kita martabat yang tinggi, yaitu panggilan jadi kudus. Ia merahmati kita sebagai bangunan rohani yang suci dan suatu imamat yang kudus. Dengan begitu, kita menerima dari-Nya tugas besar untuk menguduskan dunia. Bersama dengan Dia, kita akan membawa dunia ini dan segala ciptaan melalui jalan Yesus Kristus yang menuju kepada Bapa. Jalan kekudusan pertama-tama berguna bagi kita sendiri, kemudian berguna juga bagi orang-orang yang kita layani di dalam perutusan kita masing-masing.
“Ya, Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur dan memuji-Mu, karena Engkau senantiasa sebagai Jalan kami untuk sampai kepada Bapa. Semoga kami tetap setia mengikuti Jalan ini. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

