Dua hari di Lampung itu bukan sekadar perjalanan melintasi ruang, melainkan sebuah ziarah hati yang kami sebut ‘tilik sedulur’. Layaknya api di tungku yang harus terus dijaga agar tetap hangat, hubungan persaudaraan itu juga menuntut perhatian yang konsisten. Kami melangkah dari pintu ke pintu, melakukan sebuah ‘road show’ kasih sayang untuk memastikan nyala api itu tidak padam dimakan jarak dan waktu.
Di setiap ruang tamu yang kami singgahi, tercipta sebuah ‘oase’ yang meneduhkan. Tapi momen yang paling membekas dalam ingatan adalah, ketika percakapan kami menyentuh batas-batas kemanusiaan tentang raga yang mulai menua dan kesehatan yang kian rentan. Di sana, tidak ada penghakiman, tapi yang ada hanyalah saling rangkul dalam kata-kata peneguhan.
Kami menyadari, bahwa dukungan emosional di tengah sakit dan usia senja adalah bentuk cinta yang paling murni. Kami saling menguatkan, meyakinkan satu sama lain, bahwa meski langkah kaki ini mungkin melambat, semangat untuk saling menjaga itu akan selalu tetap cepat. Perjalanan ini mengingatkan kami, bahwa di balik kerapuhan fisik, ada kekuatan persaudaraan yang tidak akan pernah lekang oleh waktu.
Berkah Dalem.
Jlitheng

