“Sawang sinawang, karena kenyataan itu tidak seindah yang dibayangkan!” -Mas Redjo
…
Saya diam, mendengarkan cerita AP, tapi tidak percaya. JD yang adalah sahabat kami seperti mempunyai masalah dan sedang galau.
“Cobalah lihat kedalaman mata JD,” saran AP. Mungkinkah JD yang tajir melintir dan selalu tampak gembira itu sedang bermasalah?
Jujur, ketika pagi tadi saya mampir ke kantornya, JD sibuk mengurusi kiriman barang. Kami tidak banyak ngobrol. Saya juga tidak sempat memperhatikan pancaran matanya, yang merupakan jendela jiwa itu.
Sekali lagi saya ragu, karena JD senang ‘mbanyol’ dan wajahnya senantiasa sumringah. Hidupnya seperti tanpa masalah dan tiada beban. Di rumahnya itu serba ada, dan berkelimpahan.
Dalam berbisnis JD juga luar biasa. Ia mempunyai insting tajam dan perhitungannya akurat. Bahkan saya banyak belajar berbisnis darinya.
“Ketimbang mempunyai pabrik, lebih baik main trading, dan tidak ribet. Resiko dapat diminimalisasi.
Kita tidak harus mengurusi banyak karyawan, menyiapkan bahan mentah, dan tetek bengek. Apalagi, jika mesin produksi itu bermasalah dan rusak. Pusing!”
Semula saya berpikir, mempunyai pabrik itu asyik dan keren. Ternyata bayangan saya dijungkirbalikkan JD. Tidak heran, usahanya melesat pesat, menggurita, dan mantap.
*
“Mana Bos?” tanya saya pada AA, ketika sepulang mengirim barang, saya mampir di tempat JD.
“Mudik. Ada urusan mendadak,” jelas AA.
Tiba-tiba dada ini berdesir, karena saya sudah janjian dengan JD. Tapi mengapa JD tidak memberi tahu dan menelepon saya? Apa mungkin …?
Hati saya segera dipenuhi banyak pertanyaan. Bisa jadi JD mudik itu berkaitan dengan anaknya yang dipindahkan sekolah di kampung, dan diurusi mertuanya. Gara-gara anak sulungnya itu sering berulah, ia dipanggil ke sekolah. Peringatan terakhir dari sekolah adalah agar anaknya diminta pindah, untuk mencari sekolah lain.
“Mungkin pengaruh pergaulan,” kata saya hati-hati. JD diam, tidak bereaksi.
Jika JD mendadak mudik itu bisa jadi anaknya berulah lagi. Hal itu yang membuat saya jadi prihatin. Karena disadari atau tidak, banyak orangtua super sibuk yang hilang kepedulian pada anak. Mereka memanjakan anak dengan aneka pemberian barang konsumtif, asalkan mereka ‘anteng’ dan tidak merepotkan orangtua!
Saya bersyukur, meski saya dan istri sibuk mengurus toko, tapi kami selalu menyempatkan waktu untuk berkumpul dengan anak-anak guna merajut komunikasi dua arah yang baik. Karena kami sungguh peduli dengan masa depan dan kebahagiaan mereka!
Mas Redjo

