Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Inquietum est Cor Nostrum, Donec Requiescat in Te”
“Hatiku Gelisah hingga Aku Beristirahat Pada-Mu”
(Santo Agustinus)
Saya menulis kisah reflektif ini, bertolak dari sebuah realitas ziarah hidupku di kota tahu, Kediri, Jawa Timur daril sebuah kelompok doa.
Hari itu, kami berangkat menuju ke rumah seorang Ibu tua, berusia 82 tahun yang tinggal seorang diri. Di rumah mungil yang dihimpit oleh rumah tetangga itu ia berdiam dalam sunyi.
Saat kami sedang melantunkan doa, Ibu itu spontan mengulurkan kedua tangannya, memegang erat pada gagang pintu, seolah memeluknya, dengan kepalanya yang tertunduk lesu.
Seorang rekan berbisik lembut, “He, jangan-jangan dia pingsan.”
Seorang rekan lain membisikkan ke telinganya, “Apakan Ibu, sedang sakit?” Ia segera menyahut, “Tidak Mbak, saya sedang rindu untuk menatap bola-bola mata Gusti Allah.”
Setelah berdoa, kami sangat penasaran, lalu bertanya, mengapa Ibu itu bersikap demikian.
Dijawabnya, “Sungguh, kehadiran dan doa sampean itu sangat membahagiakan. Saya merasa dekat dengan Tuhan, bahkan rindu untuk menatap lembutnya bola-bola mata Tuhan.”
Mendengar kesaksian personal itu, kami terdiam, tidak tahu harus berkata apa atau mengapa. Ya, itulah sebuah kesaksian dan reaksi batin yang sangat spesial dan spontan.
Mungkin ada Puluhan, Ratusan, bahkan Jutaan Manusia yang juga Mengalami
Apakah reaksi dan kesaksian spontan ini adalah sebuah ekspresi psikologis dari orang-orang yang merasa terbuang, sendirian, kesepian, dan yang terkucil dari sesamanya? Saya tidak tahu. Tapi sejujurnya, hal itu sangat saya rasakan. Sebuah empati yang terlontar secara alami dan spontan.
Lewat pengalaman batin ini, diam-diam nuraniku berkata, “He, ingatlah saudara, di bumi ini, dan kini, ada puluhan, ratusan, bahkan jutaan manusia yang sedang menderita wabah kesepian dan kesendirian, karena ditinggalkan oleh sesamanya dengan aneka alasan serta sebab-sebabnya.
Sebuah Khotbah Sunyi dari Lubuk Hati Ibu tua
Sesungguhnya, Ibu tua yang berusia 82 tahun itu lewat ekspresi spontannya itu, ia sedang lantang berkhotbah sambil berkata, “Ingatlah, wahai manusia, ternyata di sekelilingmu, ada banyak orang yang menderita kesepian hidup. Semoga kalian, jangan pernah meninggalkan jiwa-jiwa yang kesepian itu!”
Kini mereka di belahan bumi mana pun sedang meringkih terkapar dan terkurung dihimpiti oleh wabah ganas, bernama kesepian.
Jika Anda merasa terpanggil dan tersapa, untuk bersikap peduli kepada kaum terbuang dan terpinggirkan ini, ingatlah kembali kepada “uluran kedua tangan dari Ibu tua yang memegang erat pada sebuah gagang pintu” itu. Sejenak renungkan kembali kerinduannya itu!
“Aku sangat rindu untuk menatap bola-bola mata Sang Gusti Allah.”
Refleksi
- Mari kita kembali mencermati dengan saksama, apa makna sejati dan terdalam dari kerinduan Santo Agustinus?
- Sesungguhnya, ia seolah sedang berkata, “Ketika di bumi ini, kita selalu merasa ditinggalkan, ya, pahamilah, bahwa bumi ini, bukan rumah kediaman bagi jiwa kita. Di sini, di tempat ini, sekarang ini hanyalah sebuah pondok singgah (rest area), semata.
- “Urip iku mung numpang ngombe” (Budaya Jawa).
Kediri, 27 April 2026

