Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Deus est Lumen Spei in Tenebris.”
“Allah adalah Terang Pengharapan di Dalam Kegelapan.”
(Yohanes 1: 5)
Kisah Pergulatan Empat Lilin
Tampak Empat batang Lilin yang sedang redup bernyala dan bahkan perlahan kian meluluh dan meleleh. Dalam suasana keheningan yang kian mencekam itu, sayup terdengar dialog antara mereka.
Inilah rangkaian keluhan kekesalan mereka lewat tuturan kesedihan!
(1) “Aku adalah Damai, tutur Lilin Pertama, namun manusia telah mengabaikanku!” Maka, aku pun rela untuk mematikan diriku!
(2) “Aku adalah Iman, tutur Lilin Kedua. Tapi sayang, kini aku sudah tidak berguna lagi.” Maka, aku pun rela untuk memadamkan diriku!
(3) “Aku adalah Cinta, tutur Lilin Ketiga. Aku telah rela untuk memadamkan diriku, karena manusia telah mempermainkan diri mereka dan bahkan saling membenci.” Maka, tidak lama berselang, padamlah Lilin Ketiga itu.
(4) Dalam suasana gulita nan mencekam rasa, tampak seorang Bocah yang memasuki kamarnya. Betapa dia terperanjat melihat ketiga batang Lilin yang telah padam itu. Karena saking takutnya, maka ia berkata, “Eh, sesungguhnya, apa yang telah terjadi? Kalian seharusnya tetap bernyala, karena Aku takut akan kegelapan.” Anak itu mulai terisak-isak.
Dalam suasana mencekam dan haru, bertuturlah Lilin Keempat “Nak, jangan takut dan menangis, karena, selama Aku masih ada bersamamu, kita akan menyalakan ketiga Lilin lainnya itu. Bukankah Aku ini adalah Lilin Pengharapan?”
Kini dengan langkah berani dan pasti, Bocah polos itu segera mengambil Lilin Pengharapan dan menyalakan kembali ketiga batang Lilin itu.
(Inspirasi tanpa Menggurui)
Yang Tersisa hanyalah Setitik Pengharapan
Mungkin kita masih teringat akan ketiga ‘sokoguru’ keyakinan kita, yakni: “Iman, Pengharapan, dan Cinta?”
Anda dan saya dapat membayangkan, bagaimana jadinya hidup ini, jika tidak ada secercah pengharapan di dalam hati nurani dan diri kita?
Refleksi
- Sanggupkah kita, jikalau biduk kehidupan kita pun sedang tertimpa badai dasyat dan diombang-
ambingkan oleh badai hidup? - Semoga kita dapat jadi setangkai tangan pengharapan, laksana tangan-tangan Bocah mungil yang akhirnya sanggup menyalakan kembali lilin-lilin yang telah padam di dalam kehidupan kita.
Semoga, di dalam sikon apa dan bagaimana pun tangan-tangan sadar kita mampu untuk menghidupkan kembali: iman, damai, dan cinta lewat api pengharapan yang terus bernyala di dalam dada batin kita.
- Bukankah di dalam hidup kita ini tidak selamanya akan berlangsung aman dan damai, tapi tidak jarang, badai dasyat itu akan datang dan menerpa biduk kehidupan kita!
- Lilin Pengharapan adalah Lilin yang akan terus bernyala di dalam dada batin kita.
Kediri, 12 Mei 2026

