Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Selalu ada rasa takut. Masalahnya, tidak pada cara menghilangkannya, tapi mengatasinya.”
(Peter Vidmar)
Metafora Alegoris
“Takut pada bayangan sendiri,” adalah sebuah metafora (penyamaan), puitis dan juga tragis. Hal ini bukanlah sebuah kisah ‘fisik biologis’ belaka, melainkan sebuah ‘alegori’ (gambaran visual, narasi), kuat tentang sebuah ‘pertarungan batin, pencarian identitas diri, dan sikap penerimaan diri.’
Seorang Pria dan Bayang-bayang Dirinya
Ada seorang pria yang sangat risau dan merasa terganggu dengan ‘bayang-bayangnya sendiri.’ Ia akhirnya memutuskan untuk menghilangkan bayangan dirinya itu.
Setiap kali ia mengangkat kakinya untuk mengayunkan langkah, bayangannya itu tetap berada di belakangnya.
Ia mendapat gagasan untuk berlari secepat-cepatnya. Akhirnya dia mulai berlari dan terus berlari kencang. Akhirnya ia terjatuh, karena kehabisan tenaga dan meninggal dunia.
Andaikata dia masuk ke dalam bayang-bayang rimbunan sebatang pohon, dia malah bisa duduk bersantai dan tidak perlu memaksakan diri.
(Kurt Bucker)
1500 Cerita Bermakna
Tinjauan Psikologis, Filosofis, dan Spiritual
- 1. Bayangan dalam Hidup Kita itu Bukanlah ‘Musuh’ yang harus Dijauhkan, melainkan Keberadaannya itu sebagai Sebuah Realitas. Maka, Anda jangan mengusiknya. Mengapa? Ya, karena itu adalah hukum alam alias hukum kehidupan. Anda tidak akan mampu melawan sebuah fakta hidup. Hal ini bermakna, bahwa Anda tidak perlu menyembunyikan kelemahan yang bercokol di dalam dirimu. Karena hal itu adalah bagian dari dirimu.
- 2. Kelelahan sebagai Akibat Perang Saudara di dalam Dirimu. Pria malang ini meninggal dunia seketika bukan karena terjatuh, melainkan karena ia kelelahan. Itulah sebagai dampak dari sikap selalu mau memerangi diri sendiri. Jika, Anda doyan menyiksa diri, maka jiwamu pun akan terkuras.
- 3. Kejatuhan sebagai Simbol Keruntuhan Ego. Kematian sebagai akibat dari terjatuh, itulah peristiwa keruntuhan dari ego yang terus dibangunnya di atas fondasi kepalsuan. Dalam konteks dan kondisi miris ini, manusia membutuhkan sikap ‘pengosongan diri’ alias ‘kenosis.’
Manusia itu Makhluk Multidimensional
Jadi, sungguh benar, jika ‘bayangan’ itu adalah sisi yang ditolak atau disembunyikan, maka manusia sebagai makhluk multidimensional mengakui, bahwa manusia itu tidak bisa direduksi jadi satu dimensi saja. Semisal, dimensi fisik, rasionalitas, atau spiritualitas saja. Tidak! Karena konkretnya, manusia itu justru terdiri dari satu kesatuan yang kompleks dari aneka lapisan kesadaran. Itulah yang disebut ‘matra’ atau ‘dimensi.’
Dimensi-dimensi Manusia
Manusia sebagai Makhluk Ciptaan Tuhan ( Imago Dei) Memiliki Aneka Dimensi
- Dimensi Fisik (Soma): tubuh jasmani manusia itu butuh makan, minum, dan istirahat.
- Dimensi Psikis/emosional (Psyche): pikiran, perasaan, memori, trauma, dan keinginan manusiawi.
- Dimensi Sosial (Relasional): adalah konkret, bahwa manusia itu makhluk yang berelasi dan berkumpul dengan sesama (no man is an island).
- Dimensi Spiritual/Rohani (Pneuma): inilah dimensi yang terdalam, yang merindukan akan apa makna dan arti dari hidup ini, serta juga bagaimana relasi intensnya dengan Sang Pencipta.
- Dimensi Transenden: berupa kerinduan manusia untuk melampaui dirinya sendiri, seperti sikap mencintai tanpa pamrih, mengampun, dan berharap.
Refleksi
Ternyata sungguh, betapa kompleksnya lapisan kesadaran makhluk manusia itu.
Bahkan para filsuf menyebutnya sebagai makhluk yang paling misterius dan padoksal.
Ketika makhluk manusia itu justru takut akan ‘bayangan’ sendiri, sesungguhnya, ia seakan-akan mau mengatatan, bahwa ‘lihatlah, bukankah aku ini sungguh-sungguh sebagai seorang manusia?’
Kediri, 22 Mei 2026

