Seorang bocah laki-laki berusia 5 tahun sedang berdoa di dalam kamarnya. Kedua orangtuanya mendengar dari luar kamar. Anaknya seperti sedang berbicara dengan seseorang. Mereka mengintip di lubang pintu, dan melihat anaknya memandang ke atas dengan kedua tangannya terbuka. Ia berseru di dalam doanya: “Tuhan Yesus, aku sering berdoa kepada-Mu, tapi aku belum pernah mendengar Engkau berdoa untuk aku. Sekarang aku ingin mendengar doamu untuk aku.”
Bocah itu sebenarnya ingin mengetahui, apakah Tuhan Yesus mendoakan kita. Hal ini juga sering jadi pertanyaan banyak orang di antara kita.
Injil menguraikan tentang sebuah doa Yesus yang sangat spesial. Ia berdoa supaya tercipta persatuan di antara Allah dan manusia dan manusia dengan sesamanya. Jadi Yesus berdoa bagi setiap pribadi dan semua orang yang ada di sekitar kita, semoga kita bersatu.
“Mengapa doa-Nya agar kita bersatu dan bukan kita harus bersatu?”
Alasan paling kentara ialah, Tuhan memberikan kebebasan kepada setiap manusia untuk memilih persatuan atau perpecahan. Hal ini sama dengan kebebasan memilih untuk menaati atau melawan Dia.
Hidup ini adalah arena bermain dan berjuang untuk menentukan yang memilih Tuhan dan yang tidak. Kebebasan manusia ialah karunia kodrati yang ikut menentukan kondisi iman dan pertumbuhan rohani kita.
Alasan lain yang mungkin kurang disadari ialah, persiapan itu sebagai unsur yang sangat penting dalam hidup kita. Doa Yesus, semoga kita bersatu hendaknya mendorong kita untuk menyiapkan suatu persekutuan yang sejati di antara kita putra dan putri Allah. Persiapan ini berguna untuk kita meningkatkan selera merindukan suatu persatuan abadi di Surga. Kita tidak boleh menganggap remeh atau bermain-main dengan setiap jenis persatuan yang kita bangun bersama-sama di dunia ini. Tuhan kecewa kalau kita meremehkannya.
Alasan yang paling tinggi nilainya ialah, Tuhan Allah itu Esa dan tempat Ia berdiam selamanya itu di Surga. Untuk sampai ke sana itu tidak ada transportasi kilat, tapi kita harus melewati perjalanan dan proses panjang. Seandainya tidak ada proses maka cukup satu mukjizat untuk membawa semua orang bersatu di Surga. Sehingga prosesnya, kita memakai “semoga kita bersatu.”
Kita diberi karunia memiliki pengharapan. Tuhan tidak menghilangkan pengharapan itu dan menggantinya dengan harus. Oleh karena itu doa-doa kita selalu berupa ‘semoga’, ‘kiranya’ dan ‘akan’, sebagai tanda pengharapan kita.
“Ya, Allah, semoga Roh Kudus yang diutus mempersatukan kami di dunia ini dan mempersiapkan kami untuk persatuan yang abadi bersama-Mu. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

