“Ya, Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita” (Yoh 17: 11b).
Yesus berdoa bagi murid-murid-Nya. Ia mengetahui yang akan terjadi dan dialami oleh mereka. Karena itu, sebelum meninggalkan para murid di dunia yang penuh tantangan, Yesus terlebih dahulu mendoakan mereka.
Yesus juga berdoa bagi kita semua. Ia mengetahui kerapuhan kita. Oleh sebab itu, Ia berdoa agar para murid pada waktu itu, dan kita pada masa sekarang, tetap bersatu, sama seperti kesatuan antara Bapa dan Anak. Sebagai anak-anak Allah, kita perlu menyadari dan bertanya pada diri sendiri: Apakah kita pernah berdoa bagi orang lain dengan tulus hati? Apakah kita memiliki hati seperti Yesus?
Kesatuan itu bukan sekadar kerukunan secara lahiriah, melainkan kesatuan hati, tujuan, dan kasih. Kesatuan juga bukan semata-mata hasil kedewasaan emosional, melainkan karya Ilahi yang terjadi, ketika kita memberi ruang bagi Tuhan untuk bekerja di dalam diri ini. Di tengah perbedaan karakter, latar belakang, dan pemikiran, kita dipanggil untuk tetap satu di dalam Kristus.
Marilah kita bertanya pada diri sendiri: Apakah aku memelihara persatuan, atau justru jadi sumber perpecahan?
Sr. M. Assunta, P. Karm
Rabu, 20 Mei 2026
Kis 20: 28-38 Mzm 68: 29-30.33-36; Yoh 17: 11-19
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

