“Every saint has a past, every sinner has a future.” -Rio, Scj.
Menikmati pantulan indah sinar matahari pagi terbungkus kabut tipis di lereng Tanggamus sambil menyeruput kopi, hati ini merasa damai dan penuh syukur. Meski di bagian lain orang sudah berjibaku dengan kerasnya hidup dan tidak pastinya ekonomi akibat dolar melambung, rupiah terjun bebas. Itulah hidup. Ada yang tertawa, tapi tidak sedikit yang penuh deraian air mata. Ada yang berpeluh keringat hidup, tapi ada yang santai makin kaya raya. Ada yang getir dan pahit menjalani kehidupan, tapi ada yang bisa mencecap manis dalam kepahitan. Pahit kadang nikmat, seperti segelas kopi. Meski pahit, tapi sensasi manis terasa.
Kadang yang terlihat berkilau, belum tentu emas. Sebaliknya, yang terlihat tak diperhitungkan mutiara tersimpan. Tuhan mencipta dan mengijinkan semua pasti Dia punya rencana. Yang Tuhan butuhkan adalah setia berproses, bukan banyak protes.
“Every saint has a past, every sinner has a future.” Semua orang suci punya masa lalu, tapi orang jahat pun punya harapan masa depan. Sebelum semua terlambat, lebih baik bertobat. Karena penyesalan selalu datang terlambat, tapi bertobat nggak pernah terlambat.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

