Ditolak saat mewartakan itu bukan hal asing bagi para Pewarta. Tidak sedikit dari kita yang pernah mengalami pengabaian, cibiran, bahkan penolakan. Adalah wajar, bila kita sedih, bingung, dan rasa lelah itu menyelinap masuk ke dalam diri ini.
Coba dicermati pengalaman Paulus dan Barnabas. Mereka bukan hanya ditolak, melainkan bahkan dianiaya, karena mewartakan Injil. Tapi mereka tidak berhenti. Karena paham, bahwa tugas mereka bukan membuat semua orang percaya, melainkan menyampaikan kebenaran dengan setia. Dengan berani, mereka berkata, “Memang kepada kamu firman Allah harus diberitakan lebih dahulu, tapi kamu menolaknya dan menganggap dirimu tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal. Karena itu kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain.”
Yesus menunjukkan hal serupa. Menjelang sengsara-Nya, la berkata, “Jika kamu mengenal Aku, kamu juga mengenal Bapa-Ku.” Saat Filipus meminta, “Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami,” Yesus tidak menegur, tapi menjawab dengan kasih, “Siapa yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” Dengan ini Yesus mengajarkan kepada kita, bahwa kebenaran itu tak perlu dipaksakan. Dalam kelembutan, keberanian, dan cinta-Nya itu kita belajar, bahwa mewartakan Kerajaan Allah bukan soal retorika, melainkan soal kesaksian hidup.
“Ya, Tuhan, mampukanlah kami untuk setia menyampaikan kebenaran-Mu dengan kasih, dan perilaku kami mencerminkan Engkau dalam hidup kami. Amin.”
Ziarah Batin

