“Tidak semua yang manis itu benar-benar gula.” -Rio, Scj.
Serpihan roti itu tidak sengaja jatuh dari meja tepat di samping secangkir kopi hangat. Tiga semut itu bekerja sama mengangkatnya.
Semut itu tidak akan tertipu, meskipun kita menulis garam di toples gula. Karena semut tidak membaca tulisan. Ia mencium kebenaran.
Semut tahu mana yang benar-benar gula, dan mana yang bukan. Beda dengan kita manusia yang mudah tertipu. Janjinya manis, kata-katanya meyakinkan, dan penampilan ‘wow’ mantab. Padahal itu jebakan penipuan. Kita sering tertipu membaca tulisan, bukan mencium kebenaran.
Bukalah batin dan kebijaksanaan kita, sehingga tidak lagi tertipu oleh senyum manis, kata-kata bijak. Tidak mudah dibohongi oleh topeng kebaikan. Karena kita mampu membedakan mana yang tulus dan pura-pura. Masalahnya banyak dari kita sibuk mempelajari tulisan di toples, tapi lupa mencium isi di dalamnya. Percaya pada label, bukan bukti. Percaya pada ucapan, bukan pada tindakan.
Ingatlah dunia saat ini penuh jebakan dan penipuan yang dikira gula, tapi racun. Yang dikira menguntungkan, tapi malah rugi besar-besaran. Yang kelihatan cantik dan ganteng, eh banyak dempulan. Yang dikira penuh ketulusan, tapi nyatanya kekerasan dan kejahatan. Belajarlah seperti semut itu tidak mudah percaya, karena tidak semua yang manis itu benar-benar gula.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

