“Akulah Roti Hidup” (Yoh 6: 48).
Bayangkan, jika ada seseorang yang pulang kerja dalam keadaan letih dan lapar, kemudian ia duduk di meja makan, dan suapan pertama membuatnya merasa hangat, kuat, dan segar kembali. Kita pasti yakin, bahwa makanan itu tidak sekadar mengenyangkan, tapi memulihkan tenaganya yang hilang setelah seharian bekerja keras.
Demikian juga pengalaman kita dengan Tuhan. Hidup sering kali melelahkan, entah karena tekanan pekerjaan, keluarga, kecemasan, atau pencarian makna hidup. Kita mencoba ‘mengisi’ diri dengan hiburan atau pencapaian, tapi hal itu hanya memberi kepuasan sesaat.
Yesus berkata, “Akulah roti hidup.” Dalam Ekaristi, kita menerima bukan sekadar makanan rohani, melainkan Dia sendiri yang memulihkan keletihan, kecemasan, dan kehampaan kita dengan kasih dan kekuatan. Ekaristi bukan sekadar ritus Mingguan, melainkan tempat kita pulang, dipulihkan, dan disatukan sebagai keluarga Allah.
Roti Hidup yang kita terima itu memberi kekuatan untuk jadi saksi kasih Kristus di rumah, sekolah, tempat kerja, dan masyarakat.
Semoga setiap Komuni itu mengingatkan kita, bahwa Kristus ingin berkarya dalam hidup kita, membarui hati, dan meneguhkan langkah kita untuk mengikuti-Nya setiap hari.
Sr. M. Karla, P. Karm
Kamis 23 Apr 2026
Kis 8: 26-40 Mzm 66: 8-9.16-17.20 Yoh 6: 44-51
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

