“Jangan meninggikan gengsi agar tidak ditelanjangi dan dipermalukan oleh keakuan diri.” -Mas Redjo
Sadar dan pengendalikan diri itu adalah resep cespleng agar kita tidak jadi pribadi yang sombong dan tinggi hati. Tapi hidup secara bersahaja dan membumi.
Sering kali saya melihat orang yang terpeleset oleh lidahnya sendiri. Mereka berbicara tanpa dipikir lebih dulu, bahkan hingga hilang peduli dan empati terhadap sesamanya. Miris!
Orang berjalan terlalu mendongak ke atas, sehingga mudah terpeleset atau tersandung, dan jatuh. Bahkan ada pula kepalanya yang nyundul pintu hingga benjol.
Lebih konyol lagi, adalah orang yang meninggikan gengsinya agar ‘ben-diarani’. Sehingga lupa diri dan salah menerapkan ajian “besar pasak daripada tiang” untuk gali lubang tutup lubang, dan berakhir tragis: mengubur diri sendiri. Juga banyak pula yang menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri.
Saya bersyukur, dengan melihat pengalaman orang lain, mata ini makin dicelekkan agar saya selalu ‘eling lan waspada’, dan rendah hati.
“Pengakuan itu kosong, Ngger. Tapi pemaknaan hidup itu mencerahkan jiwa,” nasihat Mbah itu saya hidupi agar saya sadar diri.
Caranya adalah hidup bersahaja, menjauhi pengakuan diri dengan berkarya dalam keheningan, dan minus publikasi.
Sejatinya orientasi semangat hidup rendah hati itu telah dimateraikan oleh Allah yang merendahkan diri menjelma jadi manusia (inkarnasi) dalam pribadi Yesus Kristus.
“Firman itu telah jadi manusia dan diam di antara kita” (Yoh 1: 14).
Tetaplah rendah hati!
Mas Redjo

