Simply da Flores 1.Sudah sekian purnama berlalukita menatap warna air sungai menjelmaTelah sekian mentari bergantisampan kita menulis di tepiAngin seberangkan rindu hati nurani Waktu menjawab damba jiwa sanubariMengapa sungai mengalir tak pernah berhentiPernahkah kita meraih mata air hulunyadan akankah kita menggapai muaranya 2.Pernah aku mencatat berapa mimpimendayung sampan mencapai muara sungailalu bertemu pantai dan melihat…
Kategori: SIMPLY DA FLORES
Secercah Sajak Semesta – 60
Secercah Sajak Semesta – 59
Serpihan Rindu Cenderawasih
Simply da Flores Kado untuk Pentahbisan Uskup Timika 1.Angin membawa kabar beritadari Timika Papua ke Romadari Tanah Surga ke seluruh duniaBahwaada seorang putera orang asli Papuaterpilih dan ditahbiskan jadi hambauntuk melayani umat sebagai GembalaSeorang Uskup dalam Gerejakorbankan jiwa raga karena cintadipilih dari bangsanya yang lara menderitaDemi taat setia kepada Sang Pencipta 2.Seorang pewaris pesona cenderawasihPutra…
Secercah Sajak Semesta – 58
Mengatasi Masalah tanpa Masalah?
Simply da Flores … 1.Telapak tangan mempunyai jemariukurannya tidak ada yang samafungsinya memang masing-masingDemikian juga telapak kakidilengkapi jemari yang berbedasemuanya tak sama agar saling menopangAnggota tubuh masing-masing berbedatetapi tetap satu tubuh jugaagar diri kita bisa hidup dan berada“Homo homini sociusManusia adalah sahabat bagi sesamanya” 2.Danternyata ada sistem alam yang mengaturnyameskipun sering tidak terlihatnamun pasti dialami…
Secercah Sajak Semesta -57
Melodi Damai dari Hroshima
Simply da Flores Sang Opa rambut putih terurai menggesek biolanada nostalgia menggema mengetuk sanubarimelintas waktu antar generasiZiarah pribadi menemukan makna sejatiapakah hakikat kodrati diri pribadiSang Oma yangdibalut sahaja senyum bijakmelukis denting irama di wajah pianodengan warna memori zamannyaKisah fakta yang hampir terlupakanmenghalau sekat ruang suku bangsa dan melintas batasKelana jiwa raga senandung tulusPribadi seorang ibu…
Secercah Sajak Semesta -56
Bulan Sabit Tertikam Petir
Simply da Flores 1.Hujan mengguyur sejak awal malammungkin itu tangisan senjaNamunhiruk pikuk metropolitan tetap berjalanAku berteduh di halte bis kotabanyak kendaraan menerjang hujandemi tagihan tugas dan kebutuhanKilau cahaya lampu kota gemerlapuntuk kehidupan zaman digital Ada yang sudah lelap tertidurTak tahu yang di kampung udikapalagi jika belum ada listrikWajah negeri beraneka ragamdalam rupa fisikapalagi soal nasib…
Secercah Sajak Semesta – 55
Melukis Wajah Keadilan
Simply da Flores 0.Dalam sebuah musyawarah alamuntuk mengajari perilaku zaman manusia sekarangUnsur alam lingkungan semestamemberikan pendapat tentang keadilanagar didengarkan dan dilakukan manusia 1.Batu-batu angkat bicaraKeadilan itu harus keras kokohdalam sanubari jiwa manusiaagar jadi landasan berpikiruntuk membuat keputusan yang benar dan tepat 2.Sungai, danau, dan hujan tidak setuju“Keadilan harus lentur seperti airdan selalu menyesuaikan diri dengan…
Secercah Sajak Semesta – 54
Conclave: Habemus Papam
Simply da Flores … 1.Kawanan merpati menjadi saksijutaan jejak rindu damba insaniyang berziarah mencari jawaban rohaniDi pelataran Basilika St. Petrus – RomaSimpul sejarah iman Kristianifakta misteri Karya Keselamatan Ilahidalam diri seorang lelakiYesus Kristus dari NazarethLahir dalam kandang hina dinaWafat dan dikuburkan dalam makam nestapakarena bukan milik keluarganyaTetapihingga zaman digital milenial inisemakin banyak yang percaya dan…







