“Damai sejati datang saat Kristus tinggal di hati.”
Allah yang Maharahim, Putra-Mu bersabda: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu, damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu.” Damai dari Yesus berbeda dari damai dunia.
Dunia berkata, damai datang, kalau masalah itu selesai; uang cukup, orang lain mengerti kita, masa depan terasa aman, dan semua itu bisa dikontrol.
Yesus mengajarkan, bahwa damai sejati itu bukan ketiadaan badai, melainkan hadirnya Tuhan di tengah badai.
Bapa, sering kali kami mencari damai di tempat yang salah. Kami mencari ketenangan dalam keadaan, rasa aman dalam harta, harga diri dalam pujian manusia. Padahal semua itu mudah berubah. Tapi hanya Allah yang setia.
Putra-Mu memberikan damai yang utuh: damai, karena kami diperdamaikan dengan Allah, dicintai, dan hidup kami ada di tangan-Mu.
Kami melihat damai itu dalam hidup Santo Paulus. Ia pernah hidup jauh dari-Mu, tapi rahmat-Mu mengubahnya. Ia dirajam, disakiti, ditolak; namun ia tetap bangkit dan terus mewartakan Injil.
Bapa, berikan kami damai seperti itu. Damai yang tidak tergantung keadaan, tidak runtuh, karena penolakan. Tapi damai yang tetap teguh dalam pencobaan.
Saat orang mengecewakan, rencana gagal, hati gelisah, dan beban terasa berat, beri kami damai-Mu.
Ingatkan kami selalu, bahwa kami ini sesungguhnya: putra-putriMu yang terkasih. Kami berasal: dari belas kasihMu. Tujuan kami: rumah Bapa di Surga.
Biarlah damai Yesus mengalir lewat hidup kami: ke rumah, keluarga, pekerjaan, dan siapa pun yang kami temui.
Kami memilih percaya, tenang, dan memilih tinggal dalam damai Kristus.
“Tuhan Yesus, Engkaulah Andalanku. Amin.”
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

