“Jika hari ini adalah halaman terakhir dari kisah hidup kita. Akankah kita menutupnya dengan syukur… atau dengan penyesalan?”
Allah yang Maha Rahim, Putra-Mu menengadah ke Surga dan berdoa. Bukan karena Ia takut menghadapi penderitaan, atau ragu terhadap misi-Nya, melainkan karena saat-Nya telah tiba. Salib sudah di depan mata, dan penderitaan makin dekat, tapi hati-Nya tetap tenang. Tidak ada kepanikan, pekerjaan yang belum selesai, dan tidak ada penyesalan.
Yesus berkata dengan damai: “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku.” Sungguh, betapa indahnya menghadapi akhir hidup seperti itu!
Bapa, diam-diam banyak dari kami menyimpan ketakutan yang sama: takut suatu hari mencapai akhir perjalanan hidup lalu menyadari, bahwa kami terlalu sibuk mengejar hal-hal yang tidak berarti; terlalu lama khawatir, menyimpan luka, menunda kasih, pengampunan, dan ketaatan pada suara-Mu.
Ketika Yesus memandang kematian-Nya, Ia melihat kepenuhan, bukan kekosongan. Paulus memiliki roh yang sama. Saat berpamitan dengan jemaat Efesus, ia tidak berbicara seperti orang yang takut kehilangan hidupnya, tapi seperti seorang yang hidupnya sudah tertambat pada misi yang Engkau percayakan. Melalui air mata, penderitaan, dan cobaan, ia tidak menahan apa pun bagi dirinya sendiri.
Bapa, ajarlah kami memiliki kejernihan hati seperti itu. Curahkan Roh Kudus-Mu atas kami, sebab hanya Roh-Mu yang mampu membangunkan kami dari ilusi, bahwa dunia ini adalah segalanya. Hanya Roh-Mu yang mampu menyingkirkan gangguan-gangguan yang mencuri hati kami dan mengingatkan yang sungguh penting. Ajarlah kami bukan hanya menghitung hari-hari kami, melainkan mengisinya dengan tujuan-Mu. Ajarlah kami mengasihi, mengampuni, melayani, dan mewartakan kebenaran-Mu.
Sebab hidup kekal itu tidak dimulai setelah kematian; tapi dimulai sekarang: mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan Yesus Kristus yang Engkau utus.
Terima kasih Bapa, karena kebencian tidak lebih kuat daripada kasih, ketakutan tidak lebih kuat daripada rahmat-Mu, dan maut tidak lebih kuat daripada Kristus. Kerajaan Terang telah mengalahkan kegelapan.
Jika waktu kami tiba, semoga kami berdiri di hadapan-Mu bukan dengan tangan penuh penyesalan, melainkan dengan hati yang penuh kasih dan kesetiaan, sambil berkata: “Bapa, oleh rahmat-Mu, aku telah menyelesaikan pekerjaan yang Engkau percayakan kepadaku.”
Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

