“Ekonomi dunia makin lesu dan suram, karena krisis. Tapi apa pun dagangannya agar cepat laku dan laris adalah dengan mengolah sepi agar jadi rezeki.” -Mas Redjo
Jujur, meski sikon perekonomian sepi dan suram itu tidak mampu memenjarakan pikiran saya untuk diam menunggu dan menunggu. Sebaliknya membuat saya makin aktif menjajakan dagangan dengan rajin bersilaturahmi ke relasi; tidak sekadar bersay-helo, tapi beranjangsana untuk mempererat hubungan dengan pelanggan.
Saya tidak mau menunggu dan menunggu, atau agar harga barang stabil, tapi untuk disiasati dan aktif berjuang, karena sukses berdagang itu tidak menunggu pembeli. Tapi dituntut untuk jadi pemburu.
Camkam! Kita ini adalah pemburu sejati yang cerdik mengolah sikon ekonomi dari sulit untuk jadi rezeki. Dalam tantangan dan kesulitan itu selalu ada peluang agar kita jadi pemenangnya!
Tidak cukup bersilaturahmi dan beranjangsana, tapi saya menyapa dan menjaring pelanggan baru itu dengan bermain TikTok di sosmed. Teknologi AI membantu saya untuk berkreasi dan berinovasi menjawab tantangan zaman.
Sekali lagi, saya tidak mau dimanja sepi, dininabobokan kemalasan dan berteman kenyamanan, sehingga berujung pada penyesalan.
Sejatinya ekonomi yang lesu dan sepi itu mengajak kita berefleksi diri. Bukan untuk menyalahkan keadaan dan orang lain, melainkan berbenah dan perbaiki diri untuk jadi baik.
Kita berteman dengan sepi untuk jadi malas itu datang dari si Jahat. Tapi mengolah sepi untuk datang kepada Allah dan berintimasi dengan-Nya. Kita bekreasi dan berinovasi untuk menjawab tantangan zaman. Hidup ini adalah solusi, dan untuk dimaknai.
Mas Redjo

