Pada suatu hari Minggu yang jatuh pada “Hari Para Bapak” sedunia, Imam yang memimpin Misa mengundang para Bapak untuk maju ke dekat altar sebelum berkat penutup Misa. Mereka didoakan dan diberkati khusus oleh Imam. Waktu itu ada tiga Bapak menangis haru dan terlihat oleh Imam yang sedang mendoakan mereka.
Imam itu bertemu mereka di luar Gereja seusai misa. Satu persatu dari mereka ditanyakan alasan menangis. Mereka menjawab, bahwa istrinya memaksa mereka maju ke depan dengan ancaman yang berbeda-beda. Jika menolak, sanksi akan diberikan tanpa ampun. Seorang Bapak diancam tidak boleh masuk rumah sepulang misa. Yang lain diancam tidak ditemani, jika mengajak pergi berdua. Yang lain lagi diancam tidak disiapkan makanan favoritnya.
Ancaman-ancaman ini serius. Seorang istri dan Ibu adalah kunci bagi rumah, makanan, dan relasi. Jika ketiga unsur itu ditiadakan, bagaimana jadinya dengan seorang suami dan Bapak, bahkan kehidupan dalam keluarga? Ketiga Bapak itu menangis bukan karena istrinya galak, melainkan mereka sangat sedih dan sakit untuk kehilangan bagian kehidupan yang dibawa dan dihidupi oleh para istrinya. Jadi para istri atau wanita ini adalah representasi dari kebaikan Allah untuk melawan semua bentuk kejahatan yang ingin merusak dan membinasakan kehidupan.
Kita sungguh berbahagia di hari peringatan Bunda Maria sebagai Bunda Gereja, yang merupakan perayaan untuk menghormati dan memuliakan peran ke-Ibuan untuk seluruh Gereja. Pada prinsipnya Gereja disebut Ibu dengan alasan paling kentara, ialah karena Bunda Maria dipercayakan oleh Putra-nya, Yesus Kristus yang adalah kepala Gereja, sebagai bunda Gereja. Yesus menyatakan itu secara langsung dan pribadi, ketika Ia bergantung di atas salib dan sesaat lagi wafat. Ia berkata kepada seorang murid yang dikasihi-Nya: “Inilah Ibu-mu!”
Gereja sebagai Ibu memiliki tanggung jawab maha penting untuk melindungi dan mengarahkan setiap anggotanya ke jalan keselamatan. Maria tentu bekerja sama dengan Yesus Kristus, Sang Kepala Gereja, untuk membuat Gereja dan seluruh anggotanya hidup dalam iman, kasih dan pengharapan yang kuat.
Sebagai Ibu, Maria menjiwai seluruh Gereja sepanjang jalan itu. Meski ancaman setan dan musuh-musuh itu tidak pernah berhenti untuk mencelakakan dan menghancurkan Gereja. Ibu Gereja memiliki kekuatan untuk bertahan dan melawannya. Perlawanan itu tidak pernah berhenti selama dunia ini masih berputar, karena Bunda Maria selalu melindungi anak-anaknya.
“Ya, Allah, semoga Bunda Maria selalu bersama kami di dalam segala kesulitan dan ancaman musuh yang mematikan. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

